Senin, 10 Juni 2013

──CERPENKU DEJAVU HUJAN───

Semula tak pernah ada yang menyusup di benak dan jadi kecurigaanku. Tapi kini mulai aneh. Semenjak Ayu hanya tinggal jelmaan dua dimensi yang terbingkai di balik kaca bertepi kayu. Dan ia tiada pernah lagi bergerak.
Tidak sekalipun kulewatkan malam tanpanya. Meski ia cukup kunikmati melalui pigura yang bahkan rubuh tanpa sandaran di sisinya. Awalnya aku sekedar berusaha mengosongkan diri, menyisakan satu ruang istimewa yang kusediakan hanya untuknya. Aku belum rela meninggalkannya. Walau ia harus terhanyut dalam takdir yang menggiringnya meninggalkanku. Aku pasrah. Tapi untuk sesaat saja. Selebihnya aku memaksakan diri. Dan akhirnya sampailah aku pada ketidakbiasaan itu.
Kutelusuri alur teka-teki pikiran yang membawaku pada Ayu. Kularungkan diri bersamanya. Namun ketika setengah jalan telah kuarungi dalam kedamaian menatapnya, aku merasa didepak tanpa dugaan. Saat reruntuhan puing-puing cairan pembasuh bumi yang tak tanggung-tanggung ciptakan kegaduhan di atas genteng mulai berhamburan. Keterkejutanku menyeruak bersamaan dengan nyanyian hujan. Maka saat itulah aku tersadar. Tatapanku pada Ayu mendadak berhenti. Sekelebat masa lalu semu melintas di hadapanku.
“Rasanya pernah,” bibirku membebaskan satu kata. Pikiranku berjalan mengikuti saraf yang menggerakkan kelopak mataku turun. “Entah kapan, aku sendiri tak tahu,” batinku. “Ada jawaban tapi terlalu sulit untuk kuterka.” Aku terpuruk dalam ragu. “Itulah mengapa aku menjadi curiga. Dan karena itu pula aku tidak bisa tinggal diam, mengabaikannya lenyap tanpa jejak begitu saja.”
Aku terus serius. Aku terus lurus. Menemukan waktu. Saat ia menggelar bayangan Ayu seperti saat ini. “Ya Tuhan, kapan??? Sebenarnya kapan??? Kapan???” pekikku membatin dalam frustasi luar biasa. Kepalaku merampas seluruh oksigen hingga mereka melesat berbondong-bondong secepat kilat dari segala penjuru tubuhku. Kupaksa otakku terus mencari. Demi jawaban yang sebetulnya tak pelik. Jawaban yang tak butuh berantai-rantai kalimat. Tak butuh basa-basi. Cukuplah kepastian. Waktu hanyalah masalah kepastian. Itu saja. Tapi mengapa aku sedemikian menderita demi menemukannya? Barangkali aku bisa jadi gila karenanya!         
“HAAAAHHH!!!!” jeritku geram. Di luar hujan masih akrab dengan bumi. Kembali mataku menghampiri wajah Ayu, mendekat pada lesung pipinya. Lalu berpindah menuju bulu mata yang tak terlalu panjang tapi kerumunannya membuatku terlena. Sungguh mengesankan. Kulanjutkan petualangan menuju pusat yang jadi favoritku. Mata Ayu. Bundaran cokelat yang melekat di sana membuatnya sanggup menahanku dalam tatapan yang lama.
“Alan,” Ayu memanggilku dari dalam persegi yang mengurung jiplakan raganya. Tangannya melambai, memerintahku mendekat padanya. Hujan belum reda. Tetap menyenandungkan dengungan-dengungan berisik ke kupingku. Aku menuruti Ayu. “Kemarilah, Alan,” Ayu lembut sekali mengucapkannya. Aku terpesona. Satu... Dua... Tiga... Senyumanku tercipta. Ia membalasnya manis. Lesung pipi itu begitu kukuh menggodaku. Aku memberikan tanganku untuknya. Ia lakukan hal yang serupa. Ujung jemari kami tak mampu menahan hasrat. Andaikan tak tersekat oleh penutup tubuh Ayu, sentuhan yang kurindukan akan berhasil bereinkarnasi. Sayang. Sayang dan sayang. Tak kuasa. Kami terjebak ketidakkuasaan. Kulihat Ayu menghapus lesung pipinya. Senyumnya mengerut. Mukanya murung. Akan tetapi tidak denganku. Sebaliknya. Kupertahankan bibirku menguntai senyum tulus untuknya.
“Tidak apa-apa,” kataku menghibur Ayu. Ia tak merespon.       
Kejujuran yang menyakitkan. Aku tak sanggup mengelak kebenaran kalimat yang sebenarnya lebih kutujukan untuk diriku sendiri. Tidak untuk Ayu. Karena di sini kusadari bahwa akulah yang lebih merasakan derita.
Ayu masih menghayati kemurungannya. Cukup lama. Aku membiarkannya. Sampai akhirnya ia bosan. Yang kutangkap selanjutnya adalah pancaran mata dengan rencana. Tapi aku tak bisa menebaknya. Jemari kami menjauh.
“Tunggu.” Ayu terlihat seperti bersiap-siap melakukan sesuatu. “Berbaliklah,” tuturnya menyuruhku. Kulakukan perintahnya. Kuputar tubuhku dan kini aku telah membelakanginya. Aku menanti. Hujan masih bergemuruh menubruk tanah. Aku nyaris tersungkur kalau saja tak mampu mengendalikan kaki untuk tetap menahan tubuhku yang terkejut atas rengkuhan mendadak. Kurasakan tubuhnya menempel punggungku. Aku hendak berbalik. Tapi dicegah olehnya. “Sekarang aku bisa memelukmu,” sekali lagi Ayu memamerkan bisikan lembutnya. Tanpa kusangka, kesemuan itu muncul kembali. Terlintas melalui hitungan detik. Remang-remang bayangan masa lalu mencoba menggoda pikiranku lagi. Kutarik napas dalam kepayahan. Hujan malam ini begitu menikmati kejatuhannya.
Kapan??? Seketika masalahku mencuat kembali, mengerubung ubun-ubun. Berhasil memerangkapku dalam tanda tanya-tanda tanya yang hanya bermuara pada kata ‘kapan’. Kapan. Dan kapan. Pusing menyergap kepala lalu menular tanpa kendali menjalari organ-organku yang lain. Aku benar-benar terganggu.
“Kapan??? Kapan??? Kapan???” Ruang hatiku kian gempar. Kuayunkan tangan menerkam rambut kuat-kuat, membiarkan akar-akarnya tertarik, menyakiti kepalaku. Gigiku gemeretak. Kubebaskan paksa tubuhku dari dekapan Ayu. 
“Ada apa?” Ayu tampak kaget. Aku selangkah ke depan menjauhinya. Hujan tak kunjung berhenti. “Kenapa?” tanya Ayu cemas. Aku tak menjawab dan tak berani memandangnya. Hanya punggungku yang mengawasinya. “Kenapa, Alan?” Ayu masih penasaran. Aku tetap diam. “Katakan Alan, kenapa??” kejar Ayu. Aku menggeleng samar. Otakku terasa seakan berputar-putar mengelilingi sesuatu yang tak jelas. Semakin lama semakin cepat. “Alan!!!” tegur Ayu keras.
“Aku juga tak tahu!” balasku marah. Ayu menunduk.
“Apa karenaku?” Mungkin karena bentakanku yang terkesan menyinggung perasaan, membuat Ayu merendahkan nada bicaranya.
Kutanggapi dengan gelengan lagi.
“Lantas kenapa??” Ayu masih memancing. Aku risih. Terganggu. Dan semakin tak mengerti dengan diriku sendiri yang merasa tidak baik. Sangat tidak baik. “Kenapa kau tak menjawabku sama sekali?” Kalimat itu dibuntuti oleh langkah Ayu yang mendekat padaku. Aku merasakannya sangat jelas meskipun sejak tadi aku tak jua memutar wajah ke arahnya. Namun aku maju setapak persis setelah itu. Ayu menyadarinya heran. Dan hal itu sudah kuduga. Hujan melemah. Kuputuskan membalikkan badan menghadapnya.
“Kapan??” kulontar sepenggal tanya, menyorot sepasang mata yang menarik perhatianku.
“Apa maksudmu?” Ayu tak mengerti. Wajah beningnya menguasaiku.
“Kapa...”
“Berbalik!!” Tiba-tiba Ayu memerintahku sebelum aku memberhentikan ucapanku. “Cepat!!!” teriaknya, serta merta merangsang kegugupanku. “Cepaaat!!” Aku gelagapan, buru-buru memutar tubuh ini seratus delapan puluh derajat. Di luar, hujan lenyap mengundang gerimisnya.
Jemari hangat yang rapat menyatu menyentuh kulit kelopak mataku yang refleks mengatup. Menekan ringan. Tenang kucoba singkirkan. Ia menurut. 
“Kau,” desisku. Wajah kalemnya melukis sempurna sudut bibir yang tertarik sedikit demi sedikit meninggalkan senyum manis. Degup jantungku berkejaran. Terkejut sekaligus terpana.
“Aku benci belakangan ini hujan turun tiap kali aku ke sini,” adunya padaku. Aku masih tenggelam meski senyum sekilasnya pudar. Penglihatannya mulai menyebar. Lalu berlabuh pada benda berkayu milikku yang telungkup di atas meja mungil sebelah tempat tidur. Tatapanku beralih searah dengannya. Menuju benda itu. Tangan perempuan itu meraihnya kemudian membetulkan posisinya seperti semula. Ia amati sebentar. “Kenapa...”
Aku menyabet cepat-cepat benda itu dan betapa aku baru sadar Ayu menghilang. “Aku mohon jangan bertanya padaku dengan kata kenapa.” Aku menggenggam erat benda di tanganku. Hanya sisa-sisa dingin yang menyerbuku. Perasaanku berangsur-angsur kehilangan kekhawatirannya. Menjemput tenang. Mendekap nyaman. Memanggil damai. Kuraba dari dalam layar jendela apartemen yang tersemprot bekas hujan malam. Aku menggapainya. Lalu sekedar mematuhi hati untuk membukanya. “Mungkinkah aku mabuk?” kuucap kalimat pertamaku selagi menyaksikan langit hitam.
“Apa maksudmu?” Ia menghampiriku.
“Aku rasa tiap kali hujan jatuh, aku pun jatuh bersamanya. Atau bahkan aku jatuh karena hujan yang membuatku jatuh? Bagaimana menurutmu?” tanyaku padanya.
“Mungkin yang kedua. Kurasa kau jatuh karena hujan menjatuhkanmu,” terangnya santai. Aku menoleh padanya.
“Mengapa?”
“Karena jika kau jatuh bersamaan dengan hujan, itu berarti kau rela. Kau rela jatuh bersamanya tak peduli akankah kau menembus tanah atau justru menggenang jadi kubangan becek,” ungkapnya. “Dan jika hujan yang menjatuhkanmu, setidaknya karena itulah aku percaya bahwa kau memang sedang mabuk. Kau terlalu banyak minum air hujan.”
Aku tersenyum tipis. Memalingkan muka darinya. “Bagaimana jika ternyata aku jatuh bersama dengan jatuhnya hujan malam ini? Bukankah dengan begitu aku justru tak perlu meminum air hujan lebih dulu lantas kemudian baru mabuk?”
“Tidak. Aku tak akan membiarkanmu rela jatuh bersamanya. Karena aku tak ingin kau tersiksa lagi. Jika kau menganggap bahwa kau jatuh bersama dengan hujan jatuh, kau akan menderita.”
“Kau baik sekali,” balasku datar. “Tak ingin membiarkanku menderita.” Aku tahu dia tersenyum walau aku sama sekali tak memandangnya. Aku melewatkan senyumnya. “Sejujurnya aku masih kacau dengan diriku sendiri. Aku ragu dengan kita...” Di luar dugaanku ia meraih pergelangan tangan kananku yang masih menahan benda berkayu.
“Jangan berbicara lagi!” sergahnya. Ia tak membuang senyumnya. “Aku selalu takut saat kau bicara tentang kejujuran itu.”
“Jika kau takut mengapa tetap saja melihatku? Jika kau takut mengapa tak meninggalkanku saja?”
“Ketakutan akan kejujuran itu tidak lebih besar daripada ketakutanku harus menyaksikanmu menderita, Alan...” Aku menekan benda berkayuku. “Dan pertanyaan konyolmu tentang hujan sudah cukup bagiku sebagai alasan aku harus berada di sisimu...”
“Rani!!” seruku geram, melepaskan genggaman tangannya. “Aku tak suka kau menyebutnya konyol. Aku benci...”
“Jika bukan kekonyolan lantas apa??!! Ya, benar kau memang mabuk. Dan seperti yang kubilang kau mabuk karena terlalu banyak dirasuki oleh air hujan. Aku tahu persis kau sangat tidak baik saat ini.”
“Karena itu jangan pedulikan aku! Jangan menghiraukanku, Rani!” Aku serasa remuk kehabisan tenaga yang tak tahu berpencar entah ke mana. “Aku memang tidak baik. Sungguh tidak baik. Jangan membuatku semakin tidak baik dengan terlalu berharap padaku. Kau pun tahu aku tak ingin kau terluka nantinya.”
“Meskipun harus terluka, aku yakin tak akan selamanya. Cukup di awal. Seiring berjalannya waktu, luka itu akan hilang dengan sendirinya. Aku percaya kau. Kita bisa melaluinya, Alan. Bersama.” Napas beratku mengguncang batin. Aku sesak lagi.
“Tak semudah yang kau bayangkan. Melupakan Ay...”
“Karena itu berhentilah menyebut namanya!” potongnya buru-buru. “Dengan begitu semua akan mudah.” Ia menyingkir. “Tidak apa-apa. Aku mengerti semua ini masih terlalu sulit untukmu. Tapi bagaimanapun juga aku hanya ingin membawamu pada kenyataan, Alan.” Ia melangkah ke luar kamarku. Hening. Hujan meninggalkan percakapanku dengan Rani yang menyiksa. Hujan meninggalkanku. Membuatku semakin bodoh ketika membiarkan Ayu meninggalkanku.
●●●
“Waktu itu kau pergi karena Rani datang?” tanyaku memastikan.
“Tidak ada jawaban lain. Kau benar,” Ayu menjawab cepat.
“Kau terlalu mudah menyerah. Pasrah begitu saja? Ataukah memang sungguh-sungguh tidak ada alasan lain selain itu? Padahal susah payah kau kabur dari kandang kaca berkayu itu.”
“Tidak ada. Sudahlah, tak perlu membahasnya. Lihat saja di sana! Hujan dari kejauhan bukankah lebih indah??” Ayu menunjuk sekenanya. Ke bawah langit malam yang kembali dijatuhi hujan.
“Iya, aku sependapat denganmu. Karena dengan jauh, suaranya tidak akan mengganggu.”
“Oh? Kau tidak suka hujan??” Ayu menatapku heran.
“Suaranya berisik sekali. Itulah yang membuatku tidak suka.”
“Sama saja,” Ayu menebar senyum andalannya. “Itu berarti kau tidak menyukai hujan. Sayang sekali. Padahal aku bahagia bisa menemuimu melalui hujan malam ini.”
“Kau bahagia melihatku di saat hujan seperti ini?” Mataku lurus menyusuri apa yang sanggup kutembus lewat hujan dari balik jendela.
“Tentu. Aku paling menyukai hari seperti ini.”
“HAAAHHH!!!” Tiba-tiba aku menjerit.
“Kenapa?” Ayu panik.
Kepalaku sakit luar biasa. Sepertinya kambuh. “Kapan? Kapan? Kapan?” umpama mantra yang komat-kamit diucapkan, kata itu kembali menyengat pikiranku. Otakku kacau. “Kapan?!” Aku terus mengingat dalam kesulitan. “Kapan?!” Aku terus dipaksa mengulang pertanyaan itu.
“Kau kenapa?” Ayu kian cemas. “Katakan kau kenapa, Alan?!”
“Kapan??!!” Semakin menderu di kepala Alan.
“Kenapa?!”
“Diaaaam!!!” teriakku akhirnya. Di ujung kesabaran, kuremas rambutku, kubayangkan seperti melumat gemas santapan-santapan favoritku lalu menelan semuanya.
“Sebenarnya kenapa?” suara Ayu lemah.
Kuatur diri semampuku. Setenang mungkin demi Ayu. Tak berperasaan membentaknya atas alasan yang bahkan bukan kesalahannya. “Mengapa kau membuatku seperti ini?”
“Apa? Membuatmu seperti apa?”
“Dengarkan aku dan jangan menyela sampai aku selesai berbicara,” perintahku halus.
“Kau datang saat hujan karena hujan menjadi hari yang paling kau sukai,” tuturku menahan kepala yang seakan masih berat memanggul beban. Ayu menyimak dalam keterdiamannya. “Tapi bagiku sebaliknya. Aku selalu merasa aneh dengan hujan. Malam. Hujan. Kau datang.” Kupaksa kata-kata itu mencuat dari bibirku meskipun sebenarnya aku benar-benar payah.
 “Dan yang paling menyiksaku, ketika hujan perlahan reda, kau pergi. Aku tahu mungkin kau ingin berkilah, tapi satu hal yang membuatku curiga hingga aku sempat ragu akan jawabanmu tadi. Kau bilang kau pergi karena perempuan itu. Tapi sebenarnya tidak. Kau pergi karena hujan membawamu pergi. Bukankah begitu?”
“Ta..”
“Jangan menjawab! Aku belum selesai. Jika kau menyangkal, maka itu benar. Entah mengapa hanya saja perasaanku mengatakan kalau kau dan hujan di malam hari, seperti malam ini adalah sama. Kau datang dan pergi bersamanya. Dan itu menyiksaku,” Sejenak aku menghela napas.
“Bukan hanya itu. Aku kalap ketika otakku tiap kali menjadi permainan ‘kapan’, ‘kapan’, dan ‘kapan’ tepat ketika kau di sini saat hujan mengguyur deras malam ini,” batinku.
“Aku mungkin tak akan pernah bisa menahanmu untuk terus di sini. Karena hujan mengikatmu. Tapi kau harus tahu bahwa aku sebenarnya tersiksa saat kau datang. Karena saat itu kau juga kan pergi. Bersamaan dengan hujanmu.
Mungkin karena itu bagiku sulit untuk merindu. Merindukanmu adalah masalah waktu. Waktu kita. Waktu yang terlilit oleh hujan.” Aku menunduk.
“Akankah sepanjang malam aku akan tersiksa seperti ini?” Ayu bergeming. Menikmati hujan. “Aku sudah selesai.”
“Aku juga selesai,” Suara Ayu hampir tak terdengar olehku. “Sebentar lagi.”
Kami masing-masing mengamati butiran-butiran air langit di malam ini. Lama. Lebih lama dari sebelumnya. Menahan Ayu di sampingku. Aku tak berani berkata lagi. Kurasa Ayu juga sama denganku. Kami saling kunci mulut masing-masing.
“‘Kapan’ku masih belum kutemukan apa jawabannya. ‘Kapan’, ‘kapan’, dan ‘kapan’. Kapan ‘kapan’ku akan berhenti mengusikku seperti ini? Kapan ‘kapan’ku akan pergi dari pikiranku?? Sial!!! Sebenarnya kapan???Kapan??? Andaikan aku bisa kembali ke masa lalu yang sepertinya semu itu...”
“Aku pergi,” celetuk Ayu membuyarkan konsentrasi tingkat tinggi otakku yang masih serius dengan keanehan dalam diriku. Tinggal rintikan yang mungkin tak berarti untuk Ayu. Tak cukup jadi alasan untuknya tetap di sini. Semua yang kukatakan terbukti sudah. Ayu memang hujan. Seperti hujan. Datang kemudian pergi. Aku terlantar dalam kesakitan. Dalam luka. Pikiran yang tercekik ‘kapan’. Hati yang was-was ia tak datang lagi. Aku benar-benar kacau. Berantakan dengan semua itu. Ayu menghilang.
●●●
“Siapa yang membolehkanmu melakukannya??!!”
“Jika aku harus meminta persetujuanmu lebih dulu semua akan tetap sama!”
“Kau sudah gila!!” umpatku. Aku mengambil kunci mobil lantas berlalu dari hadapan Rani. Kupercepat kakiku ke luar dari apartemen demi menuju suatu tempat. Untuk benda berharga yang berani-beraninya dijauhkannya dariku.
“Alan, tunggu!!!” cegahnya ketika aku hendak masuk lift. “Jangan seperti ini,” Rani menarik tanganku. “Aku tidak akan membiarkanmu tersiksa lagi hanya karena benda itu. Kau harus sadar, Alan. Semua hanya tinggal kenangan yang tak bisa terus-terusan kau ratapi. Aku sayang padamu, Alan. Jadi kumohon, jangan seperti ini,” Rani berkata parau. Aku tak begitu mempedulikannya. Kulanjutkan langkahku. Kekecewaanku pada Rani tak lagi bisa kutolerir. Aku hanya berpikir ia tidak berhak melakukan itu. Ia lancang. Karena itulah aku jengkel. Aku marah.
Kukemudikan mobilku kencang. Kuinjak pedal gas tak sabaran. Aku meluncur dengan perasaan campur aduk. Pagi yang memuakkan!
●●●
Aku turun dengan hati dan pikiran yang kalut. Kugerakkan paksa kakiku yang linglung menuju gundukan tanah yang masih segar dengan sedikit rerumputan yang mulai bermunculan di permukaannya. Aku berjongkok di dekatnya. Di sana. Pigura mungil itu memang di sana. Aku memungutnya. Benda itu kini berada kembali di tanganku. Kurekatkan di dada. Merasakannya. Seperti saat malam-malam kemarin. Kujalankan mata mengeja huruf-huruf namanya yang terukir di nisan yang membuatku merasakan sesak lagi seperti ketika pertama kali aku ke tempat ini, berurai duka untuknya.
“Kau kembali memanggilku untuk sedihku padamu? Kau kembali memanggilku untuk ketidakrelaan yang sama seperti saat itu? Benar-benar menyakitkan. Ini siksaan yang lain,” Aku membatin perih. “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” 
“Tapi mungkinkah apa yang dikatakan oleh Rani benar? Bahwa aku tersiksa tapi seolah-olah berusaha memungkirinya?” Aku tertunduk lesu.
“Kau tak mengerti ketika kepalaku amburadul setengah mati hanya karena ‘kenapa’ yang terus membayangiku, tepat saat kita bertemu di malam hari dengan hujan yang selalu turun.
Aku masih belum sanggup melepaskanmu. Namun membiarkanmu selalu datang di kala guyuran hujan membasahi malam kita adalah dilema penuh luka menyedihkan untukku. Sekalipun aku tak mampu menemukan alasan di baliknya.” Kutengok wajah Ayu yang memancar indah oleh sorotan mentari di tiap sisi kaca pigura yang kupegang. Kuletakkannya menyandar pada nisan kuburan Ayu. Kurasa pikiranku mulai berubah.
●●●
Terlihat ganjil. Meja yang kesepian oleh foto Ayu. Aku mengamatinya iba. Aku menyesal atas apa yang kulakukan hari ini. Terlebih pada meja malang itu. Aku telah menyingkirkan patung persegi yang selalu menempel di atas tubuhnya.
“Mungkin hanya itu satu-satunya cara,” ujarku dalam benak. Rutinitas dimulai. Titik-titik cair berjatuhan, berkejaran menyentuh bumi, kemudian beradu dalam gemuruh yang menggelegar menjadi hujan. Malam selalu mendung karena menyambutnya tanpa sabar. Aku sedikit cemas. Kali ini mungkin saja berbeda. Ada yang terhapus dari jadwal semula.
“Maafkan aku, Alan,” Aku terperangah. Ayu berdiri di samping jendela. “Maaf karena membuatmu tersiksa.”
“Bukankah seharusnya kau tak lagi ke sini?” balasku dingin.
“Maaf. Aku masih datang padamu karena aku ingin mengatakan maaf padamu. Aku tak menyangka sebelumnya bahwa sebenarnya kau terganggu olehku. Kukira kau baik-baik saja dengan aku kemari.”
“Apakah kau tetap akan menunggu hujan berhenti untuk pergi?” Aku pura-pura tak tahan.
“Maaf...”
“Mengapa kau selalu mengulang kata-katamu?! Kau tanya kenapa, kenapa, dan kenapa! Dan kini kau katakan maaf, maaf, dan maaf! Aku muak!!! Sebenarnya kau siapa?! Padahal aku telah menyingkirkan fotomu dariku karena aku tahu kau selalu muncul dari balik pigura itu. Kau selalu datang dari fotomu. Di saat malam. Di saat hujan. Menjemukan! Karena aku sudah sejauh ini aku menahan kenyataan pedih ini darimu. Bahkan lebih dari itu!! Aku selalu dihantui pikiran yang dikacaukan oleh pertanyaan kapan. Kapan aku pernah mengalami ini? Kapan? Aku merasa bahwa aku pernah mengalaminya. Ketika hujan di malam hari, kau datang. Lalu ketika hujan berhenti, kau pun pergi mengikutinya. Sebenarnya kapan itu pernah terjadi?!”
 “Jadi kau kembalikan fotoku karena kau tak mau aku datang ke sini lagi? Kau berharap dengan menyingkirkan fotoku maka aku tak akan mengusikmu lagi? Tapi tampaknya kau keliru. Meskipun kau mengusirku melalui foto itu, tak akan mengubah apapun. Aku akan tetap datang. Karena hujan selalu turun. Membuat segalanya akan terus terulang. Dan ketika hujan berhenti, saat itulah aku akan berhenti. Saat itu juga kau pun akan merasakan bahwa kau pernah mengalaminya.
Aku justru semakin bebas. Melenggang bersama hujan malam. Walau kau jauhkan jeruji kaca berkayuku darimu, tak jadi masalah buatku. Hujan turun. Aku datang. Hujan reda. Aku pergi. Manakala malam selalu seperti ini, aku akan selalu seperti ini. Menjadi dejavu hujan untukmu. Sebagai penebus kesalahan karena telah meninggalkanmu. Aku akan menjadi dejavu hujan untukmu. Untuk kenangan kita. Kenangan yang tak bisa diterobos oleh perempuan itu. Karena aku tahu kau tak akan merelakannya jadi penggantiku untukmu. Dan aku pun tak ingin kau cari pengganti yang menggantikanku untukmu. Kumohon, jangan tergoda olehnya...”
“Jadi begitukah?! Itukah biang kekacauan yang selama ini merasukiku?? Jawaban atas ‘kenapa-kenapa’ itu???” ●●●
--22042013.19.08.dorm.b2stinspired---

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar