Senin, 10 Juni 2013

──CERPENKU KEDAI COKLAT CHOCO───

Hangatmu melarikan diri dari pengindraanku. Barangkali karena aku mulai mati rasa. Tak mengenali lagi meski aku yakin kau berada di dekatku. Kau mengawasiku sekarang. Aku percaya itu. Kau berubah dengan kucuran dingin yang menjalari tubuh ini hingga menebar merinding. Tubuhku tanpa sadar gemetar.
Saat kau mulai berwujud, sedikit demi sedikit. Saat itu aku mulai merasa gugup. Kaku sekujur tubuhku. Kurasa kita tak sehangat dulu lagi. Aku kembali kedinginan, seperti saat waktu mengijinkanku berjumpa denganmu. Bahkan lebih parah. Dingin ini sungguh lihai mematungkanku. Kau semakin jelas. Kau semakin utuh. Aku melihat dirimu. Lantas begitu saja aku terjerat ketakutan tanpa alasan.
Seperti itu kah kau setelah kematianmu? Dalam segenap raga yang membuat ngeri mata ini? Wajahmu menghitam. Tubuhmu tiada nyata lagi keindahannya. Semua menjijikkan dengan kulit yang melepuh dan mengelupas entah dengan darah atau nanah yang tumpah ruah membekaskan bau busuk. Kedipan matamu terlihat mengenaskan. Tapi apakah kau tahu? Apakah kau mampu merasakannya? Kau tak pernah bisa menyaksikan sendiri bagaimana jelitanya dirimu saat itu. Tidak juga buruknya dirimu saat ini. Semuanya sama saja bagimu. Kau mendekatiku. Aku coba menyingkir. Kau julurkan tanganmu sekuat tenaga menggapaiku melalui firasatmu. Aku masih terus menyingkir. Mundur. Sekali lagi ketika jemarimu nyaris menyentuhku, seketika itu kau menghilang cepat.
Aku menoleh sana-sini. Kosong. Belum juga detik beristirahat lega, kau tampak kembali di belakangku. Aku berbalik cekatan. Tanganmu masih menjulur. Kujauhkan tubuhku. Namun kau kabur lagi dari penglihatanku. Muncul lagi di sebelahku. Lenyap lagi. Muncul sekilas. Hilang lagi. Muncul lagi di arah yang berbeda. Mataku seolah berputar-putar tak jelas haluan mengikutimu. Sampai akhirnya kau benar-benar lenyap menghabiskan menit. Merelakan napasku sejenak berhembus normal.
Tubuhku melonjak di tempat tiba-tiba. Kuperhatikan dengan was-was tangan penuh luka meremas bahu kananku dari belakang. Mataku ketakutan melihat begitu dekatnya darah dan nanah di tangan yang buruk rupa itu. Napasku tarik ulur tidak teratur. Kuberanikan mengibaskan tubuhku dari tangan itu. Tapi tak bisa. Kugoncangkan tubuh sebisa mungkin, namun tetap tak bisa. Tangan itu masih melekat erat. Justru semakin dalam menekan pembuluh darahku. Menyisakan sakit hebat di tulangku. Aku meringis menahan nyeri. Tangan itu merambat perlahan seiring lekukan yang didaratinya. Kemudian berhenti. Leherku siaga dalam cengkeramannya. Tubuhku benar-benar terasa kaku. Raungan panjangku meledak tatkala tangan itu menyiksa leherku tanpa ampun. Aku kesakitan. Tenggorokanku sesekarat tubuhku. Tangan gila itu hendak membunuhku. Borok-borok luka busuk itu kini bersenggolan dengan kulitku. Aku terus berteriak. Namun sia-sia. Tubuhku terasa berat sekali. Tangan itu semakin menjadi. Aku di ujung napas tipis. Tubuhku melemas. Entah berapa detik lagi aku akan kehilangan nyawaku. Akan tetapi entah mengapa tangan itu tiba-tiba menyerah. Merenggang. Melepaskanku. Aku terkulai. Mataku kabur. Aku menggigil luar biasa dalam balutan keringat yang berleleran mengguyur sekujur kulit tubuhku.
●●●
Aku tak bisa diam. Sudah tak terhitung berapa kali kubalikkan tubuh ke kanan dan ke kiri semenjak berjam-jam lalu. Ranjangku berdecit protes. Selimut kutarik tidak karuan. Aku tidak bisa tidur di hari-hari awal kepindahanku di rumah baru ini. Dingin selalu menggodaku tanpa toleransi. Kuputuskan bangkit dari tempat tidur. Jam 2.30. Tanpa pertimbangan lagi, kukenakan jaket dan kuberanikan diri bergegas ke luar rumah seraya menggenggam sebuah ponsel.
Pergi dari tempat berlindung justru membuatku semakin menggigil. Tapi bagaimana lagi, aku tak betah terus-terusan memutar tubuh percuma gara-gara kesulitan memejamkan mata untuk tidur. Saat itu masih gelap. Aku berjalan di sekitar tempat tinggalku. Sangat kosong. Sunyi. Di depan sebuah bangunan terang aku mengerem kakiku. Aku mendekat ke terasnya. Aku mengedarkan pandangan penuh heran. Di pagi sebuta itu sebuah kedai yang menyebut dirinya sebagai kedai cokelat ‘choco’ memamerkan kilauan lampu di antara bangunan yang masih tertidur. Pintunya tertutup. Papan kecil bertuliskan ‘buka’ digantung dari baliknya. Tapi kurasa di dalamnya tidak ada satu manusiapun. Namun di situ. Di situ ada seseorang. Seseorang tengah duduk di pojok teras. Kepalaku menoleh padanya. Wajahku seakan tak mau bergerak. Aku terkagum-kagum melihat seorang perempuan jelita dengan segelas minuman dalam genggaman. Kuhampiri ia. Aku duduk berjarak di sampingnya.
“Siapa?” Ia tampak terusik, menyadari keberadaanku. Aku urung menjawab. Ia arahkan wajah padaku. “Siapa di situ??” tanyanya lagi. Aku tercekat. Aneh. Di sini benar-benar terang tapi ia seolah-olah tak bisa menangkap bayanganku.
“Aku orang baru di sini,” kataku pelan.
“Oh, kau seorang lelaki rupanya,” ujar perempuan itu sembari mengulas senyum. Aku kembali heran. Tak mengerti dengan ucapan sekaligus senyumnya. Apa sungguh aku tak tampak seperti lelaki? Apakah cahaya ini terlalu lemah untuknya?
“Seorang perempuan sepertimu, sedang apa di sini? Di hari yang masih segelap ini?” Aku balik bertanya coba mengalihkan keherananku.
“Rasanya kau duduk terlalu jauh. Suaramu terdengar halus. Kemarilah agar aku bisa mendengar lebih jelas,” perintahnya. Aku menurutinya. Perlahan kugeser dudukku mendekati tubuhnya. “Aku suka menikmati udara di hari yang masih gelap seperti ini. Aku suka tempat ini. Sepertinya lebih hangat karena kuyakin ia paling terang di antara yang lain. Kau sendiri?”
“Aku... aku tidak bisa tidur. Jadi kupikir pergi ke luar rumah sebentar mungkin bisa membuatku sedikit membaik,” jawabku.
“Ini, ambillah,” ia sodorkan yang digenggamnya padaku. “Aku baru saja membelinya. Belum kuseruput sama sekali,” lanjutnya lembut. Aku ragu. Tapi kuterima juga. Jemari kami sempat bertabrakan halus. “Wah, kau sungguh-sungguh kedinginan? Tanganmu seperti es!” serunya. Aku hanya tersenyum kikuk tanpa suara. “Cepat minum cokelat itu! Kau akan merasa hangat.” Seperti terhipnotis, tanpa komentar apapun aku lekas meneguk cokelat hangat di tanganku. Aku masih lekat memandangi perempuan itu. Parasnya sungguh membuatku terpesona.
“Kau sangat cantik,” kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa sadar dari bibirku. Ia tersenyum menunjukkan responnya.
“Aku iri padamu. Kau bisa memandang kecantikanku yang bahkan aku sendiri tidak bisa memandangnya.” Keherananku kembali terpancing. “Aku pun ingin sekali melihat, bagaimana rupa lelaki di hadapanku sekarang,” ucapnya sembari tersenyum tipis. “Sayangnya aku memang tak diijinkan,” suaranya melirih. Betapa baru saja kusadari apa yang kutangkap dari perkataannya. “Perempuan ini buta,” kataku membatin pasti. Aku malah semakin serius memandang wajahnya. Mengamati dengan takjub. Aku tersenyum sekilas.
“Maaf.” Kubenahi posisi dudukku. Kuselonjorkan kedua kaki, memalingkan muka darinya menatap lurus ke arah jalan. “Aku tak menyadari kalau kau memang tidak bisa melihat,” kataku datar. Dingin masih mengerubungiku. Lubang hidungku kurasakan mulai basah.
“Tidak masalah,” ucapnya pendek.
“Haah... kenapa udara di sini benar-benar dingin?!” gerutuku ringan. Aku sendiri tak tahu warna mukaku seperti apa sekarang. Hidungku semakin nyeri. Lembab karena cairan yang mulai mengalir. Kuusap sebisaku dengan tangan. Namun semakin deras. Aku tak bisa mengontrol. Jadilah akhirnya suara menjijikkan yang kuciptakan dari hidungku yang dialiri ingus encer. “Maaf,” sesalku sembari kewalahan mengatasi hidungku.
“Kau kenapa?” Aku cukup membuatnya panik.
“Hanya tidak tahan kedinginan,” jawabku singkat sambil terus menarik ulur ingus. Tanpa kuduga, tangannya bergerak mencari-cari kemudian mendarat sedikit ragu di lenganku. Kulitku merinding. Karena baru pertama kali merasakan sentuhan sehangat itu.
“Bagaimana?” Ia menarik tangannya lalu bertanya. “Apa aku cukup mampu menghangatkan?”
Memang benar. Aku masih setengah terbuai oleh kehangatan bekas sentuhan satu detiknya. “Lebih dari sekedar mampu,” pujiku terheran-heran. Keterkejutanku memuncak ketika ia tanpa sungkan menyatukan tangannya pada tanganku. Aku tak hendak mengelak karena kehangatan yang telah menghipnotisku ketika itu juga. Aku menikmatinya nyaman. Dingin mungkin enggan untuk tetap tinggal. Ia terusir halus oleh kehangatan perempuan buta yang baru kukenal itu. Perempuan dengan cokelat hangat pertamanya untukku. Perempuan dengan tangan hangat pertamanya yang menggenggamku. Siapa mengira semenjak itu aku betah menikmati kenyamanan bersamanya. Di teras kedai cokelat yang masih terjaga diterangi nyala lampu di antara bangunan-bangunan redup yang sudah pulas. Kami selalu bertemu di sana. Aku mulai terbiasa akan kehangatannya yang telah berhasil memerangkapku. Menjadikanku selalu merindukannya. Untuk menghapus dinginku.    
●●●
Belakangan ini tubuhku melahirkan kesegaran-kesegaran luar biasa. Tepatnya sejak waktuku bersama perempuan itu. Kehangatan itu senantiasa membekas. Aku selalu bergairah karenanya dengan laptop yang rutin menyala menunggu pasokan kalimat-kalimat dari gudang otakku. Tak terkecuali siang ini. Kutancapkan sahabat kecil paling berhargaku pada salah satu lubang USB laptopku. Aku kembali terjun ke dunia favoritku.
Satu demi satu kata tentangnya mulai kuketikkan. Ia yang meski buta namun keelokannya membuatku jatuh cinta hanya dalam sekejap memandangnya. Tangannya yang pertama kali memberiku segelas cokelat hangat. Tangannya yang selalu kurindukan. Di teras kedai cokelat. Kukisahkan semuanya dari awal. Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Jariku menginjak cepat tuts-tuts keyboard laptop mengikuti kalimat-kalimat yang mulai mencipta sebuah kisah baru untuk catatan hari ini. Kisah bersamanya. Aku menyelesaikannya saat itu juga. Kemudian buru-buru kuposting di blog tercintaku. Aku tersenyum puas dan lega. Kuharap kali ini akan banyak komentar yang masuk. Kuputus koneksi internet dari modemku. Kumatikan laptop setelahnya. Mungkin tidur beberapa jam lebih baik untuk kujadikan sebagai waktu menunggu daripada berkeliaran tidak jelas ke luar rumah. “Lagipula tak ada gunanya ke luar dari rumah baru ini jika tidak untuknya,” pikirku.
●●●
Kuseret malas langkah kaki menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Seperti yang telah kurencanakan, usai bangun tidur aku membuka kembali laptopku dan menyalakannya demi meladeni ketidasabaran memastikan komentar yang mungkin sudah bertamu di blog seputar kisah baruku. Saat itu malam masih bermula. Mataku antusias mengikuti geseran kursor, menuju kolom komentar. Betapa senangnya aku meski kenyataannya jauh dari harapan. Satu komentar masuk. Aku membacanya. Sepertinya pemilik komentar itu adalah orang yang sering mengomentari kisah-kisah sebelumnya di blogku. Nama emailnya terekam dengan sendirinya di ingatanku.
“Cerita yang manis,” katanya mengawali. Aku tersenyum. “Entah aku ngawur atau tidak, rasanya seperti kedai cokelat yang pernah kudengar kasak-kusuknya dari teman kakakku bertahun-tahun silam.” Sekilas aku mempertimbangkan kalimat keduanya. Kulanjutkan membaca. “Kalau tidak salah kedai cokelat bernama “Kedai Cokelat Choho” sempat populer. Pada mulanya banyak pengunjung yang datang ke kedai itu demi menikmati sajian cokelat yang lezat. Namun lama-kelamaan suatu keanehan sering terjadi di sana.” Waah dasar! Siapa sebenarnya yang tengah bercerita di sini?? Dengan merengut-merengut kecil kuteruskan membaca.
“Kebanyakan pengunjung yang datang malam hari sering ditampaki kelebatan bayangan yang menakutkan. Tak sedikit juga pengunjung lain yang tiba-tiba merasakan tubuhnya sangat panas tepat saat mereka baru menginjakkan kaki di teras kedai. Sampai akhirnya banyak dari mereka yang kemudian memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi kedai cokelat itu. Mereka sudah bisa memastikan kedai cokelat itu tidak lagi aman. Kedai cokelat itu angker.” Aku sedikit tercekat. Apa benar? Meski kebenaran kalimat-kalimatnya bisa saja meragukan, tapi jujur aku jadi penasaran.
“Singkat cerita, kedai cokelat itu akhirnya ditutup hingga sekarang!!!” Tanda seru di penghujung kalimat itu menambah ketercekatanku. Kulanjutkan perjalanan mataku dengan perasaan was-was. “Konon sebelum kedai cokelat itu dibangun, tanahnya adalah tanah bekas sebuah gubuk yang malang. Penghuninya adalah seorang nenek gila bersama cucu perempuannya yang sangat cantik namun buta. Si nenek sering berbuat onar dan membuat resah tetangga. Karena itulah tidak ada satupun dari mereka yang peduli, entah padanya maupun cucu perempuannya yang bahkan selalu berusaha bersikap baik kepada mereka. Hingga suatu ketika kegilaan nenek itu benar-benar tak bisa dibendung. Dengan nekatnya ia membakar gubuknya sendiri. Ia tewas bersama si cucu, yang hanya satu-satunya mau merawat dirinya meski tak berpenglihatan.” Tanpa sadar, wajahku telah dikucuri keringat. Antusiasku masih belum berakhir.
“Gubuk itu akhirnya dilenyapkan dan diratakan dengan tanah. Tidak ada lagi nenek gila dan cucu perempuannya yang buta. Lama setelah itu, didirikanlah kedai cokelat di sana. Gubuk yang sebelumnya tak pernah dikunjungi oleh satu manusiapun, berubah ramai semenjak berganti menjadi kedai cokelat. Tapi begitulah. Arwah mantan penghuni gubuk yang telah musnah itu menghantui siapa saja yang mengunjungi kedai cokelat itu. Pada akhirnya kedai cokelat itu tidak bertahan lama.” Bintik-bintik di permukaan kulitku bermunculan. Aku merinding dan menghentikan gerakan mataku. Fokusku benar-benar buyar. Kutata napasku sebelum memutuskan untuk melanjutkan membaca.
“Tapi ide cerita yang kaubuat cukup menarik. Dengan latar tempat yang entah itu sengaja atau tidak kau buat sama persis dengan kedai cokelat yang pernah kudengar.” Aku terpaku. Ide cerita apa? Dia pikir aku sedang mengarang cerita?!
“Kenapa aku tidak tahu sama sekali?!” batinku resah. Antara percaya dan tidak. Tapi nama kedai cokelat itu? Cucu perempuan yang buta??? Aku cemas, bingung sekaligus takut. Tenagaku pun melayang.
●●●
Pasca waktu berlalu setelah aku menerima komentar di blogku tentang kedai cokelat itu, aku diliputi ketidakmengertian. Mengapa aku mulai merasakan sendiri keanehan itu? Penasaran seperti tak lagi menggangguku. Aku berpura-pura memberanikan diri untuk tetap ke kedai cokelat itu di waktu biasa seperti saat aku dan perempuan itu rutin bertemu. Tapi tiba-tiba saja ia tak muncul. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali aku berusaha tetap datang sebelumnya, tapi ia tetap tak pernah muncul. Kedinginanku pun berubah. Ketika aku mendekat ke teras kedai cokelat, rasa dingin semakin tidak karuan. Menyengat sekujur tubuh lebih parah. Saat kucoba duduk di terasnya pun sama. Aku berharap ada yang berbeda, ternyata tidak. Semuanya menggigil kedinginan.
●●●
Seperti hari ini. Kehangatanmu berpisah dariku melalui akhir yang mengerikan. Kemunculanmu yang tanpa kusangka-sangka. Berbeda sangat jauh dengan saat-saat yang telah kita lalui. Kau meninggalkanku dalam dingin. Beserta sakit yang masih menguasai tenggorokan ini. Apakah benar itu kau??
●●●
Tetesan darah jatuh dari lubang hidungku. Menodai jaketku. Aku menengok sekeliling. Kosong. Gelap. Kuraba leherku. Apakah tadi hanya semacam halusinasi? Aku menoleh ke belakang. Kedai cokelat tanpa lampu yang menyala. Aku memperhatikan kanan kiri. Tidak ada siapapun. Perempuan itu memang tak muncul lagi. Aku kebingungan sendiri. Sejak kapan aku duduk di teras ini, bahkan sampai dingin repot-repot menjemput mimisan dari hidungku?!     
●●●
Nayli
2.5.2013.7.54am.gkb.
 


  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar