Sabtu, 19 Juli 2014

Two Clues Three Woman (Chapter 1)

Author : naylittle^^gem 
Tittle : Two Clues Three Women
Cast : 
Do Kyung Soo (EXO)
Kim So Hyun (OC)
Do/Kim In Ho (OC)
Park Chang Hee (OC)
Lee Na Young (OC)
Lee Cha Young (OC)
Kim Sajangnim (OC)
Kim Hae Ra (OC)
Genre : Family, Suspense, Hurt
Length : Double Shot
Rating : PG-15
Desclaimer: 
Siapapun cast-nya, mereka semua adalah mereka sendiri dengan nama milik mereka masing masing. Senang menjadikan mereka sebagai pemeran dalam imajinasi ini. 
Fan fiction.  Jika ada kesamaan judul, tokoh, maupun cerita, saya minta maaf. Tapi sungguh, ini adalah karya milik saya sendiri.  ^^

Satu hal yang sepertinya sedang memaksanya berpikir, namun mengapa seolah olah otak Kyung Soo terasa berat seluruhnya. Selama hampir satu jam tidak ada yang dilakukannya selain berfokus pada album foto yang dibolak balik sekian kali. Bukan karena alasan biasa seperti iseng, Kyung Soo yang biasanya jarang membuka album, sekarang tiba tiba melakukannya dalam waktu tidak sebentar. Ada yang terjadi beberapa hari yang lalu sehingga Kyung Soo bukan tanpa maksud tertarik dengan album itu. Mata Kyung Soo mencari apa yang barangkali bisa mendukung mengapa keganjalan itu muncul dan baru baru ini dipikirkannya.
“Kalau dengan sengaja mengamati foto seperti ini, memang ada yang membuatku merasa aneh,” Kyung Soo terlihat serius sekali dengan monolognya. “Memang ada yang terlihat berbeda, tapi aku tidak bisa yakin sepenuhnya. Aku harus mencaritahu dengan cara lain!” dalam kepala Kyung Soo terbayang langkah yang pasti akan dilakukan selanjutnya.  
Otak Kyung Soo memutar lagi memori kejadian beberapa hari yang lalu <Kyung Soo PoV>
“Panggilan masuk menggetarkan ponsel yang tergeletak di atas locker pakaian di kamar ibu.  Berulang kali seperti tanpa ada orang yang kunjung mengangkatnya. Begitulah kukira. Aku mendengarnya sangat jelas karena kamar kami bersebelahan. Saat itu ibu sedang berada di kamar mandi. Aku yang merasa terganggu bergerak untuk mengangkatnya. Aku mengambil ponsel ibu dan sempat melihat nomor yang memanggil itu. Sedikit ragu, kuangkat juga akhirnya. Tapi anehnya orang yang entah aku tak tahu siapa pemilik nomor itu, justru diam setelah kuucapkan salamku. Kuulangi dengan menanyakan siapa, tetap saja tidak ada suara. Aku nyaris mengulangi lagi pertanyaan yang sama jika ibu tidak muncul tiba tiba dan merebut ponsel dari tanganku. Yang terjadi selanjutnya adalah ibu yang begitu saja menghentikan sambungan telepon di ponselnya. Wajahnya kepanikan melihatku. Aku balik menatap ibu bingung. Ibu tidak berkata apapun lalu meninggalkanku. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibu. Semenjak itu aku meyakininya.” 
<Kyung Soo PoV end>
Begitulah Kyung Soo mengingat lagi kejadian itu. Kyung Soo sesaat merasa harus berhenti mengamati setiap foto yang dilihatnya. Keputusan berikutnya adalah bergerak dan menghadap ibunya secara langsung. Ketika Kyung Soo melihat ibunya sedang berkutat dengan makan malam di dapur, Kyung Soo siap dengan apapun pertanyaan yang mendesak di otaknya.
“Ibu!” Kyung Soo memanggil dengan segenap wajah dingin. 
“Oh? Kyung Soo ah, wae?” ibu Kyung Soo menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan masakannya yang hampir selesai.
“Waktu itu, siapa? Seseorang yang tidak berbicara meskipun aku mengangkat ponsel Ibu.”
“Hm? Siapa yang kau maksud?”
“Ibu terlihat cemas saat buru buru mengambil ponsel dari tanganku. Siapa yang menelepon? Siapa orang itu? Jangan membuatku berpikir bahwa orang itu ada hubungannya dengan Ayah dan . . . In Ho.”  
“Tidak Kyung Soo ah.” Ibunya berbalik ke arah Kyung Soo berdiri. “Telepon itu bukan apa apa jangan terlalu memikirkannya. Apalagi menghubung hubungkannya dengan ayahmu maupun In Ho.”
“Apa . . . Ayah melakukan sesuatu kepada Ibu?”
“Do Kyung Soo, jaga bicaramu, Nak. Jangan mengungkit tentang orang yang sudah meninggal.”
“Ibu, kumohon katakan siapa orang di telepon itu? Seorang wanita bukan?”
“Kyung Soo! Pergi jemputlah In Ho di rumah Guru les nya.”
“Aku sudah kembali, tidak perlu menjemputku!” In Ho muncul dari belakang Kyung Soo  dengan tongkatnya. Kyung Soo seketika itu menoleh terkejut. Begitu juga ibunya.
“Kau pulang sendiri?” ibu memastikan.
“Anni, seseorang mengantarku pulang,” jawab In Ho tenang.
“Siapa?” Kyung Soo menatap penasaran ke arah In Ho. 
“Temanmu, Hyung. Dia bilang kalian satu sekolah.”
“Temanku? Siapa namanya?”
“Chang Hee Hyung. Dia memintaku memanggilnya seperti itu.”
“Chang Hee? Chang Hee Sunbae?”
“Dia sunbae mu, Hyung?”
“Ya. Tapi bagaimana bisa dia tahu . . . kau di rumah . . .”
“Bukankah rumahnya di daerah yang sama dengan Guru les ku, Hyung? Kurasa mereka adalah tetangga. Kau tidak tahu? Bahkan kalian satu sekolah.”
“Mwo?” otak Kyung Soo semakin kacau. “Tapi bagaimana bisa dia tahu kau adalah adikku?”
“Entahlah. Hyung itu, anni Chang Hee Hyung yang menyapaku lebih dulu saat aku baru saja sampai di persimpangan jalan biasanya di mana aku menunggumu.”
“Oh ya? Ah sungguh! Bagaimana bisa dia mengenalmu?” teriak Kyung Soo sambil mengacak rambut tak tahan.
“Ah Hyung, kenapa kau ini? Mungkin saja Chang Hee Hyung pernah melihatmu menjemputku, karena itulah dia tahu.” In Ho ikut kesal menanggapi Kyung Soo.
“Sudahlah, Kyung Soo. In Ho lelah, sebaiknya kita makan malam sekarang.” Ibu dua anak lelaki itu menengahi.
“Ah tunggu. Aku ingat sesuatu, Hyung.” In Ho meraba celana dan mengambil sesuatu dari saku. “Ini. Dia bilang ini adalah pesan untukmu.” lengan In Ho lurus ke depan menyodorkan secarik kertas yang ditujukan pada Kyung Soo. Kyung Soo menariknya dari genggaman In Ho.
“Ayo In Ho, ganti baju lalu makan,” ibu seperti menyaksikan selesainya percakapan Kyung Soo dan In Ho menghampiri In Ho.
“Ah, ibu! Aku bukan siswa SMP yang ingin ibu temani bila sedang ganti pakaian.” In Ho menolak dan berputar mengarahkan tongkatnya berjalan menuju kamarnya sendiri. Merasa tidak dihiraukan, ibu kembali dengan makanan. Memindahkannya dari dapur ke ruang makan.
Sedangkan Kyung Soo membaca tulisan di kertas yang diberi In Ho. 
“Jangan pernah membiarkan ibumu menghubungi nomor ini lagi! 010-7771-9197.”
Kyung Soo terbelalak. Tatapan selidik menyudut ke arah ibunya. Kertas itu kemudian terlipat dalam kepalan tangan Kyung Soo. 
Kelas 2-3 SMU Dae Young, saat jam istirahat
Walau di tempat berbeda, Kyung Soo masih membawa pikirannya yang belum berhenti dengan keganjalan keganjalan yang semakin menjadi. Suasana hatinya tidak berubah sejak semalam. Kyung Soo berjalan ke arah locker berniat menyimpan buku Kimia. Baru ia memutar kunci, seseorang melongok dari pintu belakang kelas dekat di mana locker berada. Kyung Soo menoleh. Dan sepertinya seseorang itu menyadari Kyung Soo sedang melihat ke arahnya.
“So Hyun.” bibirnya melebar mengucapakan nama tanpa mengeluarkan suara. Kyung Soo berkedip dengan mata dingin yang penuh pertanyaan.
“So Hyun ah!” So Hyun terkejut saat seseorang memanggilnya. 
“Wae?” So Hyun menoleh ke belakang kelas darimana ia merasa suara itu berasal. Kyung Soo menahan pintu locker terbuka. Kyung Soo memberi isyarat dengan kepala ke arah pintu kelas.  
“Seseorang mencarimu,” kata Kyung Soo. So Hyun tidak memberi balasan dan mengeloyor begitu saja ke luar kelas. 
“Oh? Chang Hee Sunbae?” 
“Aku lupa kalau harus mengembalikan ini,” novel Tango milik So Hyun.  “Oh, iya. Sunbae sudah selesai membacanya?”
“Ya.”
“Bagaimana menurutmu, Sunbae?”
“Lumayan bagus. Aku menyukainya.”
“Oh ya?”
“Apalagi saat membaca halaman. . . Coba kulihat . . .” Chang Hee menarik kembali novel yang telah ada di tangan So Hyun. “Oh?” Chang Hee menyadari sesuatu terjatuh dari dalam novel So Hyun. Chang Hee mengambilnya. So Hyun dengan wajah bingung menjadi penasaran.
“Apa ini?” Chang Hee memungut kertas yang ternyata jatuh dari dalam novel milik So Hyun. “Untuk Kyung Soo--Katakan pada ibumu untuk berhenti ikut campur dengan masa lalu keluargaku. Jika ibumu tetap saja dengan apa yang dilakukannya, maka tunggu apa yang akan terjadi padamu dan keluargamu.” Chang Hee membaca apa yang tertera dalam kertas itu keras keras. “Oh? Sepertinya ini ancaman?” lanjutnya.
So Hyun yang tidak mengerti dengan yang barusan didengarnya, memandang Chang Hee dengan mata melebar. Klik. Sementara Kyung Soo baru saja mengunci locker dan ia menyimak jelas sekali apa yang dikatakan Chang Hee. So Hyun terpaku
“Ini. . . kau dan Kyung Soo. . .” Chang Hee berucap ragu sekaligus menunjukkan wajah bingung.
“Sunbae. . . bagaimana bisa itu . . . ada di. . .” So Hyun gemetar dan langsung merebut begitu saja kertas yang dipegang Chang Hee. So Hyun menilik tidak percaya.
Semula Kyung Soo ingin duduk, namun entah mengapa merasa tiba tiba ada yang aneh dan ia memilih mendekat pada Chang Hee dan So Hyun. Tidak! Kepalanya mau pecah. 
“Ikut aku!” dingin sekali Kyung Soo menatap So Hyun dan Chang Hee bergantian lalu menarik kasar lengan So Hyun. Kyung Soo dan So Hyun menghilang dari hadapan Chang Hee.
Chang Hee menebak mungkin ini berhasil. Chang Hee masuk kelas dan mendekat ke bangku paling pojok.
“Ini, berikan nanti pada So Hyun. Sampaikan terima kasih. Aku bahkan belum sempat mengucapkannya,” Chang Hee berpesan pada seorang siswi berkepang dan meletakkan novel So Hyun lalu mengayun kaki meninggalkan kelas So Hyun.
“Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya,” senyum Chang Hee licik. Chang Hee merogoh ponsel yang bergetar di saku. Ia terhubung dengan seseorang.
“Yeoboseyo? Chang Hee imnida.”
“Jemput aku di bandara nanti malam. Aku akan menghubungimu lagi.”
“Ah, ne. Algesseumnida, Sajangnim.”
“Semua kuserahkan padamu.”
“Ne, Sajangnim. Geundae Sajangnim, apakah setelah itu Anda akan membawa So Hyun kembali?”
“Entahlah. Kita lihat saja apa yang terjadi setibanya aku di Korea nanti. Akan kuputuskan setelah itu.”
“Ye, Sajangnim.”   
Percakapan seluler singkat itu berakhir. Chang Hee siap mengumpulkan segenap tenaganya untuk malam ini. 
 Di koridor gedung aula
“Apa maksudnya So Hyun ah?” 
“Aku juga tidak tahu,” So Hyun menjawab ketakutan.
“Tapi kertas itu ada dalam novel milikmu.”
“Tapi lihatlah! Ini bukan tulisanku!” So Hyun gugup menggelar kertas itu ke hadapan Kyung Soo. 
Kyung Soo mengamati sekilas. “Jika bukan tulisanmu, lalu siapa? Lalu bagaimana bisa ada di novel . . .”
“Sudah kubilang aku tidak tahu, Kyung Soo! Aku tidak pernah menulisnya, dan . . . dan baru sekarang aku melihatnya.”
Kyung Soo mencoba tenang. “Kalau itu bukan tulisanmu dan bahkan kau baru melihatnya sekarang. . . apakah maksudmu. . . Chang Hee Sunbae. . .”
“Tunggu!” Kyung Soo membatin cepat lalu mengingat kejadian kemarin saat In Ho bercerita bahwa Chang Hee yang mengantarnya pulang dari rumah Guru les nya. Kyung Soo perlahan menggerakkan tangannya ke dalam saku seragam. Kertas lain yang lebih awal datang kepadanya, diambil. 
“Apa . .” So Hyun hendak bertanya.
“Ini dari orang yang sama,” ujar Kyung Soo tegas.
“Mwo?” 
“Chang Hee Sunbae yang memberikannya padaku. Melalui In Ho.”
“In Ho?”
“Ya. Ini aneh. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia mengetahui tentang In Ho sementara aku tidak pernah bercerita sekalipun mengenai In Ho selain padamu, So Hyun ah.”
“MWO?!! Kyung Soo ah, aku bahkan belum pernah bertemu In Ho sekali pun.”
“Aku tahu. Itulah mengapa.”
“Apa mungkin Chang Hee Sunbae pernah mendengarkan kita?”
“Jika itu yang kau pikirkan, mungkin saja.”
“Memangnya itu kertas apa? Lalu bagaimana bisa sampai pada In Ho?”
“Semalam In Ho pulang dari rumah guru les nya dan dia bilang bahwa Chang Hee Sunbae yang menyapanya lebih dulu lalu mengantarnya pulang. Chang Hee Sunbae tinggal di daerah yang sama dengan Guru les nya. Begitu kata In Ho.”
“Memang aneh.”
“Tapi seperti apa yang dibilang oleh In Ho. Mungkin saja karena Chang Hee Sunbae pernah melihatku menjemput In Ho, jadi karena itu dia tahu.”
“Emm . . . bisa saja jika seperti itu. Apalagi Chang Hee Sunbae seperti yang kau bilang, memang tinggal di daerah yang sama dengan guru les nya In Ho.” 
“Lalu kertas ini. Coba kau lihat!” Kyung Soo sebaliknya dengan So Hyun, ia yang giliran menggelar kertas ke muka So Hyun. So Hyun membacanya. 
“Jangan pernah membiarkan ibumu menghubungi nomor ini lagi! 010-7771-9197.”
“Apa maksudnya ini?” 
“Apa maksudnya adalah melarang ibuku menghubungi nomor ini, tapi yang membuatku bertanya tentang maksud lain adalah siapa pemilik nomor ini, So Hyun ah?”
So Hyun berpikir setelah meneliti angka yang menyusun nomor ponsel itu.
“Tapi aku lebih penasaran lagi dengan kertas yang ada padamu.” Kyung mengambil kertas yang dipegang So Hyun. Kini dua kertas ada pada kedua tangannya.
“Untuk Kyung Soo--Katakan pada ibumu untuk berhenti ikut campur dengan masa lalu keluargaku. Jika ibumu tetap saja dengan apa yang dilakukannya, maka tunggu apa yang akan terjadi padamu dan keluargamu.” Kyung Soo membunyikannya. 
“Apa lagi ini?! Kurasa aku harus bertanya langsung pada Chang Hee Sunbae apa maksud dari semua ini. Aku pergi,” Kyung Soo berlari begitu saja dari hadapan So Hyun yang masih berpikir, tidak begitu menghiraukan Kyung Soo. Mata So Hyun bergerak gerak karena kesulitan memasang otak. Hingga akhirnya So Hyun mengambil ponselnya. Ia mengutak atik kontak telepon. 
“Ketemu! Apa?! Bagaimana bisa . . .” So Hyun membatin keterkejutannya. “Kyung Soo ah, bagaimana bisa ini . . . lalu Chang Hee Sunbae. . . siapa sebenarnya dia? Dan. . . apa yang sebenarnya terjadi pada kita, Kyung Soo ah? Kalau Chang Hee Sunbae benar benar menulis apa yang dibacanya tadi, apakah dia sengaja bermaksud menimbulkan salah paham di antara kita dengan menjadikanku . . . sebagai pemilik tulisan atau . . . apa, Kyung Soo ah?”
Kamar Kyung Soo, jam 4.33. p.m.
Kyung Soo tetap memeras otaknya. Ia mondar mandir kebingungan. Jika dugaan awalnya saat melihat album fotonya dan In Ho waktu itu adalah mengenai mendiang ayah yang memiliki wanita lain dan wanita itu adalah si penelepon tempo lalu, dan bahkan, In Ho sebenarnya adalah putra dari wanita itu, Kyung Soo secepatnya akan menemukan jawaban dan berhenti mulai dari sekarang. Itupun jika benar. Ia tidak mendengar suara si penelepon, bagaimana bisa menyimpulkan kalau itu adalah seorang wanita. 
Ditambah lagi sekarang, setelah dua kertas yang menjebaknya dalam teka teki yang lebih mencurigakan baginya. Masih banyak hal lain yang pasti tersembunyi. Ibunya pun rasanya akan terus tidak mau bicara. Apa yang sesungguhnya . . .
Ting. Pesan masuk di ponsel Kyung Soo menciptakan jeda di kepalanya. Kyung Soo segera membuka pesan itu. Dari So Hyun.
“Kyung Soo ah, bagaimana? Kurasa kau benar benar bertanya pada Chang Hee Sunbae?”
Kyung Soo membalas. “Sia sia. Chang Hee Sunbae tidak mau berkata apapun soal kertas itu. Tapi dari caranya bicara, aku yakin kertas itu sengaja ditulis olehnya.”
Ting. “Benarkah? Lalu?”
“Aku tidak tahu. Apa kau punya rencana untuk membantuku?”
Ting. “Mian, aku juga tidak tahu. Aku tidak punya rencana atau apapun itu. Kyung Soo ah, ayo kita bertemu, ada yang ingin kukatakan padamu.”
“Kapan?”
Ting. “Sekarang, bagaimana?”
“Tapi aku harus menjemput In Ho. Kurasa dia pulang cepat dari rumah Guru les nya.”
Ting. “Geurae? Beritahu aku alamatnya, kita bertemu saja di sana.”
“Baiklah, kita bertemu di daerah Garosoogil, persimpangan dekat Coffee L’espace. Kau tahu?”
Ting. “Oh. Sampai ketemu.”
Garosoogil, persimpangan sekitar Coffee L’espace, jam 5.12. p.m.
Kyung Soo masih berdiri menunggu So Hyun, dan tentu saja In Ho. Belum ada yang kelihatan salah satunya sehingga membuat Kyung Soo sedikit tenang. Kepalanya kadang berputar ke selatan, mungkin saja bayangan tubuh In Ho mulai terlihat. Atau kadang ke arah utara, arah yang sangat mungkin dari mana So Hyun datang. 
“Kyung Soo ah!!!” seru So Hyun setengah berlari mencapai Kyung Soo. 
“Oh? Wasseo?”
“Di mana In Ho?”
“Entahlah, kurasa . . .”
“Oh? Kyung Soo ah! Mungkinkah itu . . .” So Hyun membuat Kyung Soo melihat ke arah yang diperhatikan oleh So Hyun. Arah seharusnya In Ho muncul.
─TBC<@naylittle_gem>
Hehe, maaf kalau ceritanya ‘mbulet’ dan membingungkan. 
Thanks for reading, ^^
Waiting for your comment . . . ^^
Komentar Anda sangat membantu untuk karya selanjutnya. Terima kasih. <membungkuk penuh hormat^^> 


1 komentar:

  1. Hunay!! Mana ini lanjutannya?
    Ceritanya misterius-bikin penasaran looh..
    Tapi di bagian awal itu ada kata2 yang diulang2 di beberapa kalimat Nay..
    Cast-nya haruse jangan diungkap di awal semua Nay.. gara2 baca daftar cast, aku jadi mikir kalo Inho itu jangan2 adik kandungnya Sohyun :)
    Lanjutkan nulis FF yang banyak ya Nay, dan pastikan maincastnya DO ya.. :D

    BalasHapus