Sabtu, 12 Juli 2014

Quit with Me

Author : naylittle^^gem
Tittle : QUIT WITH ME
Main Cast : Do Kyung Soo, Lee Se Young (OC)
Genre : School-life, Romance
Length : One shot
Ranting : PG-15

Desclaimer: Siapapun cast-nya, mereka semua adalah mereka dengan nama milik mereka masing masing. Bagaimanapun juga aku senang menjadikan mereka sebagai lakon dalam imajinasiku. ^^
Fiktif. Jika ada kesamaan judul, tokoh, maupun cerita, saya minta maaf. Tapi sungguh, ini adalah karya milik saya sendiri. ^^

●●●
Se Young ingin meninggalkan mata sembabnya di pemakaman, berharap ini adalah kesedihan terakhir yang sempurna karena kini tidak ada orang tua yang tersisa. Tapi bukankah tidak pantas? Tempat kehidupan ayahnya yang baru akan menjadi kelabu kalau Se Young melakukannya. Seharusnya Se Young tersenyum penuh kerelaan agar ayahnya merasakan kedamaian yang jauh lebih baik daripada tempat mereka bersama sebelumnya.
“Andai saja memang harus sekarang, maafkan aku Ayah, aku baru bisa tersenyum sedikit. Setidaknya Ayah menghargainya,” Se Young coba menghibur diri untuk sedikit demi sedikit mengusir kegelapan di hatinya.
Orang orang berbaju hitam, termasuk paman dan bibinya, satu persatu mulai bubar. Tinggal Se Young dan Do Ahjussi beserta putranya, Do Kyung Soo.
“Se Young ah,” Se Young agak gemetar saat tiba tiba Do Ahjussi menjejerinya.
“Ye?” Se Young menoleh tidak lebih dari empat puluh lima derajat ke arahnya.
“Kau harus merelakan Ayahmu, agar dia bisa pergi dengan tenang,” nasihat Do Ahjussi menyongsong telinga Se Young. Se Young mengangguk, menghadap kembali ke makam ayahnya. “Apa yang akan kaulakukan selanjutnya? Sangat memilukan menjadi sebatangkara, bukankah begitu?” lanjut Do Ahjussi.
“Entahlah,  Ahjussi. Kurasa aku akan membantu Bibi di kedai mie,” jelas Se Young setenang mungkin.
Do Ahjussi menengok ke belakang membuat Kyung Soo yang semula menunduk, mengangkat kepala saat itu juga. “Tunggulah di mobil, ada yang ingin Ayah bicarakan dulu dengan Se Young,” terang Do Ahjussi pada Kyung Soo. Sepintas, Se Young ikut menoleh. Kyung Soo menatapnya datar. Sampai saat di pemakaman hari itu, Se Young belum mengobrol satu katapun dengan Kyung Soo. Menyapa pun tidak. Terlalu berlebihan bagi Se Young berharap Kyung Soo bisa sedikit menguatkannya di hari ia berduka.
“Baiklah,” ucap Kyung Soo berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
“Dengarkan, Se Young ah,” raut Do Ahjussi serius tapi seperti ada yang lain di balik keseriusannya. Semacam keangkuhan. Hanya saja Se Young belum menyadarinya. “Jujur saja sebagai Sunbae dari ayahmu, aku sangat bersedih atas kepergiannya. Apalagi selama tiga tahun dia telah menjadi guru yang baik bagi Kyung Soo. Aku sangat berterimakasih pada ayahmu, Se Young ah.”
Se Young mengangguk samar.
“Se Young ah, belajarlah yang rajin. Bila kau lolos seleksi masuk SMU Se Kyung, kujamin kau mendapatkan beasiswa, dan yang pasti, kau juga bisa tinggal di asrama SMU Se Kyung. Sementara biaya hidupmu akan menjadi tanggung jawabku. Bagaimana?”
Se Young sejenak tidak mampu membuka mulut karena kesulitan membendung ketidakpercayaannya. Se Young mencatat SMU Se Kyung yang dikelola oleh yayasan milik Do Ahjussi sebagai salah satu SMU tujuannya. Kali ini seperti mimpi di hari yang kelam, tidak serasi karena tidak seharusnya. Namun kenyataannya itu terjadi pada Se Young.
“Bagaimana, Se Young ah?” ulang Do Ahjussi.
“Benarkah, Ahjussi?” Se Young memandang Do Ahjussi dalam.
“Tentu saja,” Do Ahjussi mengangguk angguk seraya melebarkan senyum. “Tapi ada yang harus kau lakukan sebagai gantinya. Anggap saja sebagai syarat.”
Sangat memalukan jika Se Young saat itu terlanjur berjingkrak jingkrak karena terlalu gembira. Tapi Se Young tahu itu bukan tempat dan situasinya. Mustahil Do Ahjussi mengulurkan tangan dan membiarkan Se Young menerima uluran tangan itu tanpa balik mengulurkan tangan padanya.
“Apa yang harus kulakukan, Ahjussi?” di pikiran Se Young tidak ada orang sebaik Do Ahjussi yang menawarkan kebaikan padanya seperti itu. Se Young sepantasnya enggan menolak.
“Menjadi guru les Kyung Soo. Aku tahu kau sangat baik dalam pelajaran. Kau bisa menjadi pengajar yang kupercaya untuk membantu Kyung Soo.”
“Ye? Menjadi guru les Kyung Soo?” Se Young memperoleh keterkejutan lainnya.
“Tiga hari lagi adalah waktu seleksi. Persiapkan dengan baik, mengerti?” Do Ahjussi menepuk pundak Se Young lalu pergi.
Se Young dikerubungi banyak pertimbangan. Belum ia menginjakkan kaki meninggalkan pemakaman, sudah datang kebahagiaan bersyarat yang tidak diduganya. Keterpaksaan karena terdesak dalam kondisi tanpa ayah dan ibu membuat Se Young merasa harus tegas dengan keputusan menyambut kebaikan Do Ahjussi. Se Young memantapkan kepastiannya.
“Putri dari seorang guru les, sudah seharusnya juga menjadi seorang guru les. Paling tidak putrinya lebih cerdas dari ayahnya. Bukankah aku sudah sangat baik dengan mantan Hoobae ku, Kyung Soo ah?” mobil Do Ahjussi tidak berapa lama kemudian melesat dari kawasan pemakaman dengan kemudi yang dikendalikan oleh sopir pribadi. Kyung Soo tidak begitu tertarik dengan omongan ayahnya, karena itulah ia urung menanggapi.
Sehari yang ada semenjak kematian ayahnya terisi oleh lebih banyak buku yang terbuka dengan goresan bolpoin Se Young. Se Young merasa bahwa untuk tenggelam dalam duka hanyalah kemarin. Bayangan saat ayahnya memberinya semangat belajar masih lebih baik untuk diingat, karena itu adalah kekuatannya. Se Young menggunakan waktunya dengan baik. Karena itulah, kebaikan Do Ahjussi ia rasa memang berpihak padanya. Pengumuman hasil seleksi mencantumkan namanya sebagai murid baru yang diterima oleh SMU Se Kyung.
SMU Se Kyung, several days for all new students
Kelas 1-4, sebelum guru pelajaran bahasa Inggris datang
“Hya, apakah kalian sudah dengar?” seorang murid perempuan bertubuh gendut, yang duduk dua baris di belakang Se Young kelihatan serius menarik perhatian gadis gadis di sekitarnya.
“Apa?” tanya salah seorang. Kini mereka memusat dalam gerombolan kecil.
“Gadis itu, kalian tahu?” murid gendut mengalihkan mata ke arah punggung Se Young, memprovokasi yang lain.
“Wae?” gadis yang lain menyenggol lengan murid gendut.
“Mollasseo? Katanya, gadis itu bisa diterima di Se Kyung karena pemilik yayasan.”
“Mwo? Maksudmu ayahnya Do Kyung Soo?”
“Eotthokke?”
“Ada yang bilang dia bahkan bisa tinggal di asrama karena rekomendasi khusus dari ayahnya Do Kyung Soo.”
“Benarkah?? Wah, itu berarti apakah dia murid yang diistimewakan?”
“Entahlah, tapi . . .”
“Tapi apa?”
Mereka mendekatkan kepala. “Menurut kalian, apa istimewanya gadis itu?” bisik murid gendut.
“Benar juga.”
“Pintar? Kalian ingat siapa yang mengerjakan soal Matematika  Kim Songsaenim kemarin?”
“Aaah . . itu. Bukankah Kyung Soo?”
“Gadis itu juga mengerjakannya. Itu adalah soal yang bahkan rumusnya baru diajarkan kemarin oleh Kim Songsaenim.”
“Oh ya?”
“Tapi Kyung Soo juga bisa mengerjakannya.”
“Anni, terlepas dari Kyung Soo, kita sedang membicarakan gadis itu. Kalau Kyung Soo, aku percaya dia memang pintar.”
“Benar juga. Lalu, gadis itu?”
“Kudengar tidak ada beasiswa untuk murid tahun pertama, mustahil jika gadis itu diterima melalui beasiswa kan?”
“Mungkin dia adalah keluarganya pemilik yayasan? Keponakannya mungkin?”
“Jadi maksudmu dia adalah sepupunya Kyung Soo?”
“Berhentilah membicarakan hal yang bahkan kalian tidak tahu kebenarannya,” seorang murid laki laki datang dari pintu belakang kelas mengejutkan gadis gadis yang sedang bergosip. Sontak gerombolan mereka bubar, melihat siapa yang barusan menegur. Tidak ada yang berani melanjutkan. Bahkan si murid gendut. Murid laki laki itu menghampiri kursi tempat duduknya. Nomor dua dari belakang di deret sebelah kiri dari deret di mana Se Young duduk.
Se Young menyadari kedatangannya. Kepalanya tergerak menengok. Se Young baru saja mendengar suaranya. Bagi Se Young seperti sebuah pembelaan untuknya. Do Kyung Soo. Murid lelaki yang melakukan itu. Sekarang Se Young memperhatikan sepasang bola mata Kyung Soo turun ke permukaan kertas dari buku yang baru saja digelar di mejanya. Se Young tersenyum tipis.
Kyung Soo terlihat lebih beku semenjak beberapa hari mereka menjadi murid baru. Padahal kenyataannya mereka satu kelas. Belum ada saling menyapa sekalipun untuk hari pertama yang tanpa mereka duga bisa saling bertemu di kelas yang sama. Entah mengapa terlalu takut bagi Se Young untuk memanggil saat ia tahu ekspresi Kyung Soo sudah sedingin itu dari awal ia melihatnya. Apa yang membuat Kyung Soo seperti itu, Se Young tidak tahu. Hanya saja semuanya membuat Se Young merasa tidak nyaman.
Kyung Soo melirik, membuat Se Young terkejut. Se Young berbenah ke posisi duduknya semula.
“Mianhae, Se Young ah. Asal kau tahu, aku bukan Do Kyung Soo, si murid SMP yang dulu lagi seperti saat ayahmu masih hidup,” bisik hati Kyung Soo.
Sepulang sekolah, pelataran SMU Se Kyung
Se Young mendekap ponsel dengan perasaan ragu bercampur takut. Namun dia harus menuruti apa yang disuruh oleh Do Ahjussi kepadanya barusan di telepon. Ia pun mengambil langkah cepat.
“Hya, Kyung Soo ah!” serunya menghentikan Kyung Soo yang baru saja membuka pintu mobil. Kyung Soo tidak jadi masuk. Se Young berhenti di hadapannya.
“Kyung Soo ah, kita mulai les hari ini,” Se Young terlihat canggung. “Ayahmu yang bilang,” lanjutnya sambil menunduk.
“Lalu?” Kyung Soo memandang tanpa ekspresi.
“Jigeum, Kyung Soo ah,” Se Young memberanikan diri menatap balik mata yang tetap tidak berubah dinginnya.
“Geurae? Baiklah,” Kyung Soo menyingkir. “Naiklah,” suruhnya pada Se Young.
Se Young menggigit bibir bagian bawah. Cukup menggambarkan rasa malunya. Beberapa memasang mata ke arahnya. Ia masuk ke dalam mobil diikuti Kyung Soo yang kemudian duduk di sebelahnya. Mobil melaju meninggalkan SMU Se Kyung. Tiada pembicaraan sama sekali. Sopir berfokus pada kemudinya sementara Kyung Soo dan Se Young saling bergeming. Sampai mereka tiba di rumah Kyung Soo, tidak ada yang berhenti untuk mengunci mulut.
“Ddarawa,” Kyung Soo mendahului Se Young, membuatnya mengekor masuk ke dalam rumah Kyung Soo. Se Young bisa menebak ke mana Kyung Soo membawanya. Ruang yang dulu biasanya digunakan Kyung Soo bersama ayah Se Young. Se Young sering bergabung belajar bersama mereka. Namun sekarang hanya mereka berdua yang akan menempati ruangan itu.
Mereka duduk saling berhadapan, berada dalam satu meja.
“Kau tidak ingin ganti pakaian dulu?” Se Young bertanya pelan.
“Tidak. Jika aku berganti pakaian seperti membuat ini semakin lama,” ujar Kyung Soo sambil membuka tas dan menarik beberapa buku dari dalamnya.
“Mwo?”
“Aku hanya ingin cepat selesai. Itu saja. Apa yang akan kita pelajari sekarang?”
“Wae irae, Kyung Soo ah? Kenapa kau jadi seperti ini padaku?”
“Apa maksudmu? Kau bilang sekarang. Kau menjadi guru lesku, dan sekarang kita belajar. Bukankah begitu?”
“Kau, Kyung Soo ah. Apa yang terjadi padamu? Apakah aku melakukan kesalahan sampai kau bersikap dingin seperti ini padaku?”
“Siapa yang bersikap dingin pada siapa? Kurasa hal yang wajar menjadi berubah saat masuk SMU. Kau terlalu berlebihan, Se Young ah.”
“Tapi kau seperti tidak mengenalku, Kyung Soo ah. Sementara kita berada dalam kelas yang sama.”
“Kau bahkan masuk ke dalam mobilku di depan mata para hagsaeng, itu kau sebut tidak mengenalmu?”
“Baiklah. Kau bilang kau berubah. Tapi apakah perubahanmu harus membuat orang lain merasa terganggu? Kau membuatku tidak nyaman, Kyung Soo ah.”
“Hentikan, kau tidak digaji untuk mengomeliku. Kita hanya harus belajar. Lakukan saja seperti yang Ayah minta,” Kyung Soo membuka bukunya. Se Young merasakan sesak. Waktu berjalan serius dalam keheningan karena pada akhirnya mereka hanya saling membaca buku sendiri sendiri.
SMU Se Kyung, a day later
Kelas 1-4 saat jam istirahat
Se Young berkutat dengan buku soal Biologi. Ada yang sepertinya akan beraksi lagi padanya. Sekumpulan gadis yang termasuk cepat menyatukan diri, sementara mereka masih menjadi murid baru. Murid gendut yang kelihatannya dari awal sengaja menjadi pelopor. Mereka menghampiri Se Young.
“Annyeong, Lee Se Young,” Se Young terusik.
“Hm? Aku?” 
“Oh. Kau pikir aku menyapa bukumu?” murid gendut terlihat jengkel, tapi kawan kawannya justru menahan tawa karenanya.
“Wae?”
“Kau membuat kami penasaran, Se Young, ah,” kata seorang gadis kurus berkuncir.
“Wae? Apa yang membuat kalian penasaran?” Se Young santai menanggapi.
“Apa hubunganmu dengan Kyung Soo? Kami lihat kau mengikutinya dan kalian berdua meninggalkan sekolah dengan mobilnya,” jelas si gendut.
“Kami hanya teman yang saling mengenal saat SMP. Itu saja.”
“Jadi kalian hanya teman masa SMP?” gadis lainnya yang berkacamata melotot senang.
“Hya, kenapa ekspresimu seperti itu? Kyung Soo milikku,” ada lagi gadis lain yang terlihat paling tinggi, bersungut pada gadis kurus.
“Apa kau ibunya? Kau bahkan belum pernah menyapanya lalu mengatakan Kyung Soo milikmu? Hhh!” gadis kurus mendengus sinis.
“Hya, hya, hya geumanhae!” seru gadis gendut. “Benarkah kau dan Kyung Soo hanya berteman? Kalau begitu apakah kalian pergi bersama ke suatu tempat kemarin?”
“Hya, kukira kita baru beberapa hari mengenal. Kau pikir siapa mencampuri urusan orang lain?” Se Young merasa tidak nyaman.  
“Mwo?” gadis gendut merasa tidak terima.
“Rasa penasaranmu terlalu berlebihan,” lanjut Se Young. Ia seperti tidak ingin meladeni lagi gadis gadis di sekelilingnya, dan memilih kembali pada buku.
Gadis gendut geram, juga kawan kawannya. Mereka saling memandang. Tiba tiba gadis berambut pendek yang dari tadi tidak bicara, menarik paksa buku soal Biologi dari Se Young.
“Hya! Apa yang kau lakukan?!” teriak Se Young, merebut kembali bukunya namun tidak berhasil karena tangan gadis itu dengan cekatan memberikan buku Se Young pada gadis yang paling tinggi.
Gadis paling tinggi seketika itu berlari mendekati jendela yang terbuka. Lengan kirinya yang memegang buku Se Young dilongokkan ke luar jendela. “Bermain sedikit denganmu menyenangkan juga,” ujarnya seolah mengancam Se Young. Se Young spontan menghampiri gadis tinggi itu. “Oops!! Mian,” gadis tinggi menjatuhkan buku Se Young. Si gendut dan kawannya yang lain lantas menertawankan apa yang dilihat. Se Young kesal mengeluarkan kepala melihat bukunya yang tergeletak di atas tanah. Se Young turun tiga lantai dan ke luar untuk mengambil bukunya. Ia bergegas buru buru. Ia mengusap debu yang menempeli bukunya.
“Awww!!” pekik Se Young kesakitan. Tubuhnya ditimpa beberapa buku dan alat tulis yang sepertinya sengaja dijatuhkan dari atas. Se Young mendongak. Gadis gendut dan kawannya lagi lagi tertawa. Tas Se Young di tangan gadis gendut. Se Young tidak ada pilihan, pasrah memunguti barang miliknya meski marah.
“Apa yang mereka lakukan padamu?” Kyung Soo muncul di dekat Se Young, membantunya. Se Young diam sebentar.
“Berikan padaku,” Se Young merebut benda benda yang telah diambil Kyung Soo.
“Se Young ah, kita perlu bicara,” Kyung Soo menyentuh lengan Se Young, hendak menariknya untuk berdiri.
“Kau tidak lihat aku sedang membereskan ini?” Se Young membalas perkataan Kyung Soo dengan nada dingin.
Kyung Soo melepaskan lengan Se Young. Ia membiarkan Se Young selesai mengambil barang barangnya.
“Apa yang ingin kau katakan?” Se Young berdiri. Ia kesulitan menggendong semua barangnya.
“Jangan menjadi guru lesku lagi,” Kyung Soo menatap Se Young, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Tidak sedingin sebelumnya. Se Young merasakannya.
“Mwo?” Se Young bingung.
“Aku tidak membutuhkanmu, Se Young ah,” meski dingin itu berkurang pada tatapannya, mendengarkan ucapan Kyung Soo, Se Young merasa tubuhnya kaku. “Sebagai guru les,” Kyung Soo meneruskan.
“Lalu?” sesak itu kembali menyiksa Se Young.
“Aku bukan lagi Kyung Soo seperti saat ayahmu mengajariku selama tiga tahun yang lalu. Dan aku bukan seorang murid yang membutuhkan guru les sepertimu. Kalaupun aku membutuhkan guru les, aku harap itu bukan kau. Wae? Karena aku tidak menginginkannya, Se Young ah,” Se Young dibuat diam oleh Kyung Soo.
“Jadi itu kah alasanmu bersikap dingin padaku?” Se Young manahan sesaknya.
“Jangan bertanya dulu. Aku ingin mengatakannya sampai selesai,” sepasang tangan Kyung Soo tiba tiba menyentuh pundak Se Young. Mata mereka sangat lekat memandang.
“Dengarkan, Se Young ah. Aku tahu Ayah sengaja merencanakannya. Mengaturmu agar bisa menjadi guru lesku. Kau tahu, ayahku hanya kasihan padamu dan kau seharusnya menolak tawarannya. Kau hanya perlu membuktikan kalau kau tidak harus bergantung padanya, Se Young ah,” entah mengapa Se Young melihat kecemasan itu. “Se Young ah, kita bisa saja keluar dari sekolah ini.”
“Apa katamu? Keluar dari sekolah ini? Kyung Soo ah, kita bahkan baru menjadi murid baru.”
“Se Young ah, aku yakin ada sekolah lain yang lebih baik dari sekolah ini. Jika kau mau, bertahanlah untuk satu tahun di sini, lalu kita ikut seleksi tahun depan untuk masuk ke sekolah itu bersama.”
“Mwo? Maksudmu sekarang kau mencoba mengajakku untuk mengulang lagi tahun pertama?” Se Young tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kyung Soo. Kyung Soo mengangguk.
“Kyung Soo ah, aku tidak habis pikir kau mengatakan ini padaku. Asal kau tahu, entah itu hanya karena belas kasihan dari ayahmu atau yang lainnya aku tidak peduli. Dalam pikiranku aku sudah sangat berterimakasih padanya. Sekarang, aku hanya perlu mengikuti semuanya, Kyung Soo ah.”
“Apa kau tidak kuatir jika ada rumor kau ternyata hanya seorang gadis yang dikasihani oleh ayahku dan karena itulah digaji sebagai guru lesku? Mereka akan semakin bersikap buruk padamu, Se Young ah.”
“Anni,” tegas Se Young. Namun sesaknya belum sirna. “Itu bukan rumor Kyung Soo ah. Itu adalah kenyataan. Aku akan mengurusnya sendiri, kau tidak perlu kuatir.”
“Aku menyukaimu, Lee Se Young.”
Selesai sudah. Sesak itu kini berganti dengan keterkejutan. Se Young menghentikan tatapannya dari Kyung Soo.
“Kyung Soo ah, bagaimana bisa kau. . .” Se Young tak bisa melanjutkan kata kata karena Kyung Soo begitu saja merengkuh dan memeluknya.
“Lalu apa kau bisa mengatasi ini? Banyak yang melihat kita, dan kau tahu apa yang akan terjadi besok? Akan lebih banyak pembicaraan lagi tentang kita, Se Young ah,” Kyung Soo membisik. “Sekolah ini selamanya penuh dengan pembicaraan Se Young ah,” lanjutnya.
Se Young berusaha tenang mendorong tubuh Kyung Soo. “Sudah kubilang aku akan mengurusnya sendiri, Kyung Soo ah,” Se Young menatap untuk terakhir kalinya. Lantas berbalik akan pergi.
“Lee Se Young,” panggil Kyung Soo. “Katakan padaku jika kau berubah pikiran.”
Se Young hanya berhenti melangkah tanpa menjawab. Lagi. Sesak itu. Tidak hanya di dada, kini merembet ke sekujur tubuhnya.
“Nado, Kyung Soo ah. Aku juga menyukaimu. Sudah cukup dengan melihatmu. Di kelas, bahkan di rumahmu. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahmu jika kita bertindak lebih jauh. Aku takut jika keadaan justru semakin buruk. Jadi biarkan saja seperti ini, Kyung Soo ah. Lagipula apakah ayahmu akan menghargai perasaanku padamu? Anni, apakah ayahmu bahkan mengijinkan perasaan ini, Kyung Soo ah?”
END
Thanks for reading, ^^
Waiting for your comment . . . ^^




Tidak ada komentar:

Posting Komentar