Author : naylittle^^gem
Tittle : QUIT WITH ME
Main Cast : Do Kyung Soo, Lee Se Young (OC)
Genre : School-life, Romance
Length : One shot
Ranting : PG-15
Desclaimer: Siapapun
cast-nya, mereka semua adalah mereka dengan nama milik mereka masing masing.
Bagaimanapun juga aku senang menjadikan mereka sebagai lakon dalam imajinasiku.
^^
Fiktif. Jika ada
kesamaan judul, tokoh, maupun cerita, saya minta maaf. Tapi sungguh, ini adalah
karya milik saya sendiri. ^^
●●●
Se
Young ingin meninggalkan mata sembabnya di pemakaman, berharap ini adalah kesedihan
terakhir yang sempurna karena kini tidak ada orang tua yang tersisa. Tapi
bukankah tidak pantas? Tempat kehidupan ayahnya yang baru akan menjadi kelabu
kalau Se Young melakukannya. Seharusnya Se Young tersenyum penuh kerelaan agar ayahnya
merasakan kedamaian yang jauh lebih baik daripada tempat mereka bersama sebelumnya.
“Andai
saja memang harus sekarang, maafkan aku Ayah, aku baru bisa tersenyum sedikit.
Setidaknya Ayah menghargainya,” Se Young coba menghibur diri untuk sedikit demi
sedikit mengusir kegelapan di hatinya.
Orang
orang berbaju hitam, termasuk paman dan bibinya, satu persatu mulai bubar.
Tinggal Se Young dan Do Ahjussi beserta putranya, Do Kyung Soo.
“Se
Young ah,” Se Young agak gemetar saat tiba tiba Do Ahjussi menjejerinya.
“Ye?”
Se Young menoleh tidak lebih dari empat puluh lima derajat ke arahnya.
“Kau
harus merelakan Ayahmu, agar dia bisa pergi dengan tenang,” nasihat Do Ahjussi
menyongsong telinga Se Young. Se Young mengangguk, menghadap kembali ke makam
ayahnya. “Apa yang akan kaulakukan selanjutnya? Sangat memilukan menjadi sebatangkara,
bukankah begitu?” lanjut Do Ahjussi.
“Entahlah,
Ahjussi. Kurasa aku akan membantu Bibi
di kedai mie,” jelas Se Young setenang mungkin.
Do
Ahjussi menengok ke belakang membuat Kyung Soo yang semula menunduk, mengangkat
kepala saat itu juga. “Tunggulah di mobil, ada yang ingin Ayah bicarakan dulu dengan
Se Young,” terang Do Ahjussi pada Kyung Soo. Sepintas, Se Young ikut menoleh.
Kyung Soo menatapnya datar. Sampai saat di pemakaman hari itu, Se Young belum
mengobrol satu katapun dengan Kyung Soo. Menyapa pun tidak. Terlalu berlebihan
bagi Se Young berharap Kyung Soo bisa sedikit menguatkannya di hari ia berduka.
“Baiklah,”
ucap Kyung Soo berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
“Dengarkan,
Se Young ah,” raut Do Ahjussi serius tapi seperti ada yang lain di balik
keseriusannya. Semacam keangkuhan. Hanya saja Se Young belum menyadarinya.
“Jujur saja sebagai Sunbae dari ayahmu, aku sangat bersedih atas kepergiannya. Apalagi
selama tiga tahun dia telah menjadi guru yang baik bagi Kyung Soo. Aku sangat
berterimakasih pada ayahmu, Se Young ah.”
Se
Young mengangguk samar.
“Se
Young ah, belajarlah yang rajin. Bila kau lolos seleksi masuk SMU Se Kyung,
kujamin kau mendapatkan beasiswa, dan yang pasti, kau juga bisa tinggal di
asrama SMU Se Kyung. Sementara biaya hidupmu akan menjadi tanggung jawabku.
Bagaimana?”
Se
Young sejenak tidak mampu membuka mulut karena kesulitan membendung
ketidakpercayaannya. Se Young mencatat SMU Se Kyung yang dikelola oleh yayasan milik
Do Ahjussi sebagai salah satu SMU tujuannya. Kali ini seperti mimpi di hari
yang kelam, tidak serasi karena tidak seharusnya. Namun kenyataannya itu
terjadi pada Se Young.
“Bagaimana,
Se Young ah?” ulang Do Ahjussi.
“Benarkah,
Ahjussi?” Se Young memandang Do Ahjussi dalam.
“Tentu
saja,” Do Ahjussi mengangguk angguk seraya melebarkan senyum. “Tapi ada yang
harus kau lakukan sebagai gantinya. Anggap saja sebagai syarat.”
Sangat
memalukan jika Se Young saat itu terlanjur berjingkrak jingkrak karena terlalu
gembira. Tapi Se Young tahu itu bukan tempat dan situasinya. Mustahil Do
Ahjussi mengulurkan tangan dan membiarkan Se Young menerima uluran tangan itu
tanpa balik mengulurkan tangan padanya.
“Apa
yang harus kulakukan, Ahjussi?” di pikiran Se Young tidak ada orang sebaik Do
Ahjussi yang menawarkan kebaikan padanya seperti itu. Se Young sepantasnya
enggan menolak.
“Menjadi
guru les Kyung Soo. Aku tahu kau sangat baik dalam pelajaran. Kau bisa menjadi
pengajar yang kupercaya untuk membantu Kyung Soo.”
“Ye?
Menjadi guru les Kyung Soo?” Se Young memperoleh keterkejutan lainnya.
“Tiga
hari lagi adalah waktu seleksi. Persiapkan dengan baik, mengerti?” Do Ahjussi
menepuk pundak Se Young lalu pergi.
Se
Young dikerubungi banyak pertimbangan. Belum ia menginjakkan kaki meninggalkan
pemakaman, sudah datang kebahagiaan bersyarat yang tidak diduganya.
Keterpaksaan karena terdesak dalam kondisi tanpa ayah dan ibu membuat Se Young
merasa harus tegas dengan keputusan menyambut kebaikan Do Ahjussi. Se Young
memantapkan kepastiannya.
“Putri
dari seorang guru les, sudah seharusnya juga menjadi seorang guru les. Paling
tidak putrinya lebih cerdas dari ayahnya. Bukankah aku sudah sangat baik dengan
mantan Hoobae ku, Kyung Soo ah?” mobil Do Ahjussi tidak berapa lama kemudian
melesat dari kawasan pemakaman dengan kemudi yang dikendalikan oleh sopir pribadi.
Kyung Soo tidak begitu tertarik dengan omongan ayahnya, karena itulah ia urung
menanggapi.
Sehari
yang ada semenjak kematian ayahnya terisi oleh lebih banyak buku yang terbuka
dengan goresan bolpoin Se Young. Se Young merasa bahwa untuk tenggelam dalam
duka hanyalah kemarin. Bayangan saat ayahnya memberinya semangat belajar masih
lebih baik untuk diingat, karena itu adalah kekuatannya. Se Young menggunakan
waktunya dengan baik. Karena itulah, kebaikan Do Ahjussi ia rasa memang
berpihak padanya. Pengumuman hasil seleksi mencantumkan namanya sebagai murid
baru yang diterima oleh SMU Se Kyung.
SMU
Se Kyung, several days for all new students
Kelas
1-4, sebelum guru pelajaran bahasa Inggris datang
“Hya,
apakah kalian sudah dengar?” seorang murid perempuan bertubuh gendut, yang
duduk dua baris di belakang Se Young kelihatan serius menarik perhatian gadis
gadis di sekitarnya.
“Apa?”
tanya salah seorang. Kini mereka memusat dalam gerombolan kecil.
“Gadis
itu, kalian tahu?” murid gendut mengalihkan mata ke arah punggung Se Young,
memprovokasi yang lain.
“Wae?”
gadis yang lain menyenggol lengan murid gendut.
“Mollasseo?
Katanya, gadis itu bisa diterima di Se Kyung karena pemilik yayasan.”
“Mwo?
Maksudmu ayahnya Do Kyung Soo?”
“Eotthokke?”
“Ada
yang bilang dia bahkan bisa tinggal di asrama karena rekomendasi khusus dari
ayahnya Do Kyung Soo.”
“Benarkah??
Wah, itu berarti apakah dia murid yang diistimewakan?”
“Entahlah,
tapi . . .”
“Tapi
apa?”
Mereka
mendekatkan kepala. “Menurut kalian, apa istimewanya gadis itu?” bisik murid
gendut.
“Benar
juga.”
“Pintar?
Kalian ingat siapa yang mengerjakan soal Matematika Kim Songsaenim kemarin?”
“Aaah
. . itu. Bukankah Kyung Soo?”
“Gadis
itu juga mengerjakannya. Itu adalah soal yang bahkan rumusnya baru diajarkan
kemarin oleh Kim Songsaenim.”
“Oh
ya?”
“Tapi
Kyung Soo juga bisa mengerjakannya.”
“Anni,
terlepas dari Kyung Soo, kita sedang membicarakan gadis itu. Kalau Kyung Soo,
aku percaya dia memang pintar.”
“Benar
juga. Lalu, gadis itu?”
“Kudengar
tidak ada beasiswa untuk murid tahun pertama, mustahil jika gadis itu diterima melalui
beasiswa kan?”
“Mungkin
dia adalah keluarganya pemilik yayasan? Keponakannya mungkin?”
“Jadi
maksudmu dia adalah sepupunya Kyung Soo?”
“Berhentilah
membicarakan hal yang bahkan kalian tidak tahu kebenarannya,” seorang murid
laki laki datang dari pintu belakang kelas mengejutkan gadis gadis yang sedang
bergosip. Sontak gerombolan mereka bubar, melihat siapa yang barusan menegur.
Tidak ada yang berani melanjutkan. Bahkan si murid gendut. Murid laki laki itu
menghampiri kursi tempat duduknya. Nomor dua dari belakang di deret sebelah kiri
dari deret di mana Se Young duduk.
Se
Young menyadari kedatangannya. Kepalanya tergerak menengok. Se Young baru saja mendengar
suaranya. Bagi Se Young seperti sebuah pembelaan untuknya. Do Kyung Soo. Murid
lelaki yang melakukan itu. Sekarang Se Young memperhatikan sepasang bola mata Kyung
Soo turun ke permukaan kertas dari buku yang baru saja digelar di mejanya. Se
Young tersenyum tipis.
Kyung
Soo terlihat lebih beku semenjak beberapa hari mereka menjadi murid baru.
Padahal kenyataannya mereka satu kelas. Belum ada saling menyapa sekalipun
untuk hari pertama yang tanpa mereka duga bisa saling bertemu di kelas yang
sama. Entah mengapa terlalu takut bagi Se Young untuk memanggil saat ia tahu
ekspresi Kyung Soo sudah sedingin itu dari awal ia melihatnya. Apa yang membuat
Kyung Soo seperti itu, Se Young tidak tahu. Hanya saja semuanya membuat Se
Young merasa tidak nyaman.
Kyung
Soo melirik, membuat Se Young terkejut. Se Young berbenah ke posisi duduknya
semula.
“Mianhae,
Se Young ah. Asal kau tahu, aku bukan Do Kyung Soo, si murid SMP yang dulu lagi
seperti saat ayahmu masih hidup,” bisik hati Kyung Soo.
Sepulang
sekolah, pelataran SMU Se Kyung
Se
Young mendekap ponsel dengan perasaan ragu bercampur takut. Namun dia harus
menuruti apa yang disuruh oleh Do Ahjussi kepadanya barusan di telepon. Ia pun
mengambil langkah cepat.
“Hya,
Kyung Soo ah!” serunya menghentikan Kyung Soo yang baru saja membuka pintu
mobil. Kyung Soo tidak jadi masuk. Se Young berhenti di hadapannya.
“Kyung
Soo ah, kita mulai les hari ini,” Se Young terlihat canggung. “Ayahmu yang
bilang,” lanjutnya sambil menunduk.
“Lalu?”
Kyung Soo memandang tanpa ekspresi.
“Jigeum,
Kyung Soo ah,” Se Young memberanikan diri menatap balik mata yang tetap tidak
berubah dinginnya.
“Geurae?
Baiklah,” Kyung Soo menyingkir. “Naiklah,” suruhnya pada Se Young.
Se
Young menggigit bibir bagian bawah. Cukup menggambarkan rasa malunya. Beberapa
memasang mata ke arahnya. Ia masuk ke dalam mobil diikuti Kyung Soo yang
kemudian duduk di sebelahnya. Mobil melaju meninggalkan SMU Se Kyung. Tiada
pembicaraan sama sekali. Sopir berfokus pada kemudinya sementara Kyung Soo dan
Se Young saling bergeming. Sampai mereka tiba di rumah Kyung Soo, tidak ada
yang berhenti untuk mengunci mulut.
“Ddarawa,”
Kyung Soo mendahului Se Young, membuatnya mengekor masuk ke dalam rumah Kyung
Soo. Se Young bisa menebak ke mana Kyung Soo membawanya. Ruang yang dulu
biasanya digunakan Kyung Soo bersama ayah Se Young. Se Young sering bergabung
belajar bersama mereka. Namun sekarang hanya mereka berdua yang akan menempati
ruangan itu.
Mereka
duduk saling berhadapan, berada dalam satu meja.
“Kau
tidak ingin ganti pakaian dulu?” Se Young bertanya pelan.
“Tidak.
Jika aku berganti pakaian seperti membuat ini semakin lama,” ujar Kyung Soo
sambil membuka tas dan menarik beberapa buku dari dalamnya.
“Mwo?”
“Aku
hanya ingin cepat selesai. Itu saja. Apa yang akan kita pelajari sekarang?”
“Wae
irae, Kyung Soo ah? Kenapa kau jadi seperti ini padaku?”
“Apa
maksudmu? Kau bilang sekarang. Kau menjadi guru lesku, dan sekarang kita
belajar. Bukankah begitu?”
“Kau,
Kyung Soo ah. Apa yang terjadi padamu? Apakah aku melakukan kesalahan sampai
kau bersikap dingin seperti ini padaku?”
“Siapa
yang bersikap dingin pada siapa? Kurasa hal yang wajar menjadi berubah saat
masuk SMU. Kau terlalu berlebihan, Se Young ah.”
“Tapi
kau seperti tidak mengenalku, Kyung Soo ah. Sementara kita berada dalam kelas
yang sama.”
“Kau
bahkan masuk ke dalam mobilku di depan mata para hagsaeng, itu kau sebut tidak
mengenalmu?”
“Baiklah.
Kau bilang kau berubah. Tapi apakah perubahanmu harus membuat orang lain merasa
terganggu? Kau membuatku tidak nyaman, Kyung Soo ah.”
“Hentikan,
kau tidak digaji untuk mengomeliku. Kita hanya harus belajar. Lakukan saja
seperti yang Ayah minta,” Kyung Soo membuka bukunya. Se Young merasakan sesak. Waktu
berjalan serius dalam keheningan karena pada akhirnya mereka hanya saling
membaca buku sendiri sendiri.
SMU
Se Kyung, a day later
Kelas
1-4 saat jam istirahat
Se
Young berkutat dengan buku soal Biologi. Ada yang sepertinya akan beraksi lagi
padanya. Sekumpulan gadis yang termasuk cepat menyatukan diri, sementara mereka
masih menjadi murid baru. Murid gendut yang kelihatannya dari awal sengaja
menjadi pelopor. Mereka menghampiri Se Young.
“Annyeong,
Lee Se Young,” Se Young terusik.
“Hm?
Aku?”
“Oh.
Kau pikir aku menyapa bukumu?” murid gendut terlihat jengkel, tapi kawan
kawannya justru menahan tawa karenanya.
“Wae?”
“Kau
membuat kami penasaran, Se Young, ah,” kata seorang gadis kurus berkuncir.
“Wae?
Apa yang membuat kalian penasaran?” Se Young santai menanggapi.
“Apa
hubunganmu dengan Kyung Soo? Kami lihat kau mengikutinya dan kalian berdua
meninggalkan sekolah dengan mobilnya,” jelas si gendut.
“Kami
hanya teman yang saling mengenal saat SMP. Itu saja.”
“Jadi
kalian hanya teman masa SMP?” gadis lainnya yang berkacamata melotot senang.
“Hya,
kenapa ekspresimu seperti itu? Kyung Soo milikku,” ada lagi gadis lain yang
terlihat paling tinggi, bersungut pada gadis kurus.
“Apa
kau ibunya? Kau bahkan belum pernah menyapanya lalu mengatakan Kyung Soo
milikmu? Hhh!” gadis kurus mendengus sinis.
“Hya,
hya, hya geumanhae!” seru gadis gendut. “Benarkah kau dan Kyung Soo hanya
berteman? Kalau begitu apakah kalian pergi bersama ke suatu tempat kemarin?”
“Hya,
kukira kita baru beberapa hari mengenal. Kau pikir siapa mencampuri urusan
orang lain?” Se Young merasa tidak nyaman.
“Mwo?”
gadis gendut merasa tidak terima.
“Rasa
penasaranmu terlalu berlebihan,” lanjut Se Young. Ia seperti tidak ingin
meladeni lagi gadis gadis di sekelilingnya, dan memilih kembali pada buku.
Gadis
gendut geram, juga kawan kawannya. Mereka saling memandang. Tiba tiba gadis
berambut pendek yang dari tadi tidak bicara, menarik paksa buku soal Biologi
dari Se Young.
“Hya!
Apa yang kau lakukan?!” teriak Se Young, merebut kembali bukunya namun tidak
berhasil karena tangan gadis itu dengan cekatan memberikan buku Se Young pada
gadis yang paling tinggi.
Gadis
paling tinggi seketika itu berlari mendekati jendela yang terbuka. Lengan
kirinya yang memegang buku Se Young dilongokkan ke luar jendela. “Bermain
sedikit denganmu menyenangkan juga,” ujarnya seolah mengancam Se Young. Se
Young spontan menghampiri gadis tinggi itu. “Oops!! Mian,” gadis tinggi
menjatuhkan buku Se Young. Si gendut dan kawannya yang lain lantas
menertawankan apa yang dilihat. Se Young kesal mengeluarkan kepala melihat
bukunya yang tergeletak di atas tanah. Se Young turun tiga lantai dan ke luar
untuk mengambil bukunya. Ia bergegas buru buru. Ia mengusap debu yang menempeli
bukunya.
“Awww!!”
pekik Se Young kesakitan. Tubuhnya ditimpa beberapa buku dan alat tulis yang
sepertinya sengaja dijatuhkan dari atas. Se Young mendongak. Gadis gendut dan
kawannya lagi lagi tertawa. Tas Se Young di tangan gadis gendut. Se Young tidak
ada pilihan, pasrah memunguti barang miliknya meski marah.
“Apa
yang mereka lakukan padamu?” Kyung Soo muncul di dekat Se Young, membantunya.
Se Young diam sebentar.
“Berikan
padaku,” Se Young merebut benda benda yang telah diambil Kyung Soo.
“Se
Young ah, kita perlu bicara,” Kyung Soo menyentuh lengan Se Young, hendak
menariknya untuk berdiri.
“Kau
tidak lihat aku sedang membereskan ini?” Se Young membalas perkataan Kyung Soo
dengan nada dingin.
Kyung
Soo melepaskan lengan Se Young. Ia membiarkan Se Young selesai mengambil barang
barangnya.
“Apa
yang ingin kau katakan?” Se Young berdiri. Ia kesulitan menggendong semua
barangnya.
“Jangan
menjadi guru lesku lagi,” Kyung Soo menatap Se Young, kali ini dengan tatapan
yang berbeda. Tidak sedingin sebelumnya. Se Young merasakannya.
“Mwo?”
Se Young bingung.
“Aku
tidak membutuhkanmu, Se Young ah,” meski dingin itu berkurang pada tatapannya,
mendengarkan ucapan Kyung Soo, Se Young merasa tubuhnya kaku. “Sebagai guru
les,” Kyung Soo meneruskan.
“Lalu?”
sesak itu kembali menyiksa Se Young.
“Aku
bukan lagi Kyung Soo seperti saat ayahmu mengajariku selama tiga tahun yang
lalu. Dan aku bukan seorang murid yang membutuhkan guru les sepertimu. Kalaupun
aku membutuhkan guru les, aku harap itu bukan kau. Wae? Karena aku tidak
menginginkannya, Se Young ah,” Se Young dibuat diam oleh Kyung Soo.
“Jadi
itu kah alasanmu bersikap dingin padaku?” Se Young manahan sesaknya.
“Jangan
bertanya dulu. Aku ingin mengatakannya sampai selesai,” sepasang tangan Kyung
Soo tiba tiba menyentuh pundak Se Young. Mata mereka sangat lekat memandang.
“Dengarkan,
Se Young ah. Aku tahu Ayah sengaja merencanakannya. Mengaturmu agar bisa
menjadi guru lesku. Kau tahu, ayahku hanya kasihan padamu dan kau seharusnya
menolak tawarannya. Kau hanya perlu membuktikan kalau kau tidak harus
bergantung padanya, Se Young ah,” entah mengapa Se Young melihat kecemasan itu.
“Se Young ah, kita bisa saja keluar dari sekolah ini.”
“Apa
katamu? Keluar dari sekolah ini? Kyung Soo ah, kita bahkan baru menjadi murid
baru.”
“Se
Young ah, aku yakin ada sekolah lain yang lebih baik dari sekolah ini. Jika kau
mau, bertahanlah untuk satu tahun di sini, lalu kita ikut seleksi tahun depan
untuk masuk ke sekolah itu bersama.”
“Mwo?
Maksudmu sekarang kau mencoba mengajakku untuk mengulang lagi tahun pertama?”
Se Young tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kyung Soo. Kyung Soo
mengangguk.
“Kyung
Soo ah, aku tidak habis pikir kau mengatakan ini padaku. Asal kau tahu, entah
itu hanya karena belas kasihan dari ayahmu atau yang lainnya aku tidak peduli.
Dalam pikiranku aku sudah sangat berterimakasih padanya. Sekarang, aku hanya
perlu mengikuti semuanya, Kyung Soo ah.”
“Apa
kau tidak kuatir jika ada rumor kau ternyata hanya seorang gadis yang
dikasihani oleh ayahku dan karena itulah digaji sebagai guru lesku? Mereka akan
semakin bersikap buruk padamu, Se Young ah.”
“Anni,”
tegas Se Young. Namun sesaknya belum sirna. “Itu bukan rumor Kyung Soo ah. Itu
adalah kenyataan. Aku akan mengurusnya sendiri, kau tidak perlu kuatir.”
“Aku
menyukaimu, Lee Se Young.”
Selesai
sudah. Sesak itu kini berganti dengan keterkejutan. Se Young menghentikan
tatapannya dari Kyung Soo.
“Kyung
Soo ah, bagaimana bisa kau. . .” Se Young tak bisa melanjutkan kata kata karena
Kyung Soo begitu saja merengkuh dan memeluknya.
“Lalu
apa kau bisa mengatasi ini? Banyak yang melihat kita, dan kau tahu apa yang
akan terjadi besok? Akan lebih banyak pembicaraan lagi tentang kita, Se Young
ah,” Kyung Soo membisik. “Sekolah ini selamanya penuh dengan pembicaraan Se
Young ah,” lanjutnya.
Se
Young berusaha tenang mendorong tubuh Kyung Soo. “Sudah kubilang aku akan
mengurusnya sendiri, Kyung Soo ah,” Se Young menatap untuk terakhir kalinya.
Lantas berbalik akan pergi.
“Lee
Se Young,” panggil Kyung Soo. “Katakan padaku jika kau berubah pikiran.”
Se
Young hanya berhenti melangkah tanpa menjawab. Lagi. Sesak itu. Tidak hanya di
dada, kini merembet ke sekujur tubuhnya.
“Nado,
Kyung Soo ah. Aku juga menyukaimu. Sudah cukup dengan melihatmu. Di kelas,
bahkan di rumahmu. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahmu jika kita
bertindak lebih jauh. Aku takut jika keadaan justru semakin buruk. Jadi biarkan
saja seperti ini, Kyung Soo ah. Lagipula apakah ayahmu akan menghargai
perasaanku padamu? Anni, apakah ayahmu bahkan mengijinkan perasaan ini, Kyung
Soo ah?”
─END
Thanks for reading, ^^
Waiting for your comment . . . ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar